Merawat Bumi Sebagai Ibadah: Spiritualitas Ekologis dalam Aksi Nyata
"Bumi
tidak diwariskan kepada kita oleh nenek moyang, melainkan dipinjamkan oleh
anak-anak kita." (Pepatah Native American
Adaptif).
Pada artikel
sebelumnya, "Pendidikan Karakter di Era AI: Mengapa Empati Lebih
Penting dari Kode?", kita telah memahami bahwa kecerdasan teknologi
harus dibarengi dengan karakter dan empati agar tetap berpihak kepada
kemanusiaan. Namun, empati tidak hanya diwujudkan dalam hubungan antarmanusia,
melainkan juga dalam cara kita memperlakukan alam sebagai rumah bersama.
Melalui Lensa Digital, kita menyaksikan setiap hari berita tentang banjir,
kekeringan, kebakaran hutan, dan cuaca ekstrem yang semakin sering menghiasi
ruang informasi. Ironisnya, kita bisa begitu peduli terhadap isu lingkungan di
belahan dunia lain, tetapi sering kali mengabaikan sampah di sekitar rumah
sendiri. Pertanyaannya, mungkinkah seseorang mengaku mencintai Sang Pencipta,
tetapi abai terhadap ciptaan-Nya?
Laporan WorldMeteorological Organization (WMO, 2025) mencatat bahwa tahun 2024 menjadi
tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern, dengan peningkatan suhu global
yang memicu berbagai bencana hidrometeorologi di banyak negara. Perubahan iklim
kini bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang telah memengaruhi
kesehatan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat. Sayangnya, respons
yang muncul sering berhenti pada rasa cemas (eco-anxiety) atau unggahan
media sosial yang tidak diikuti perubahan perilaku. Padahal, penelitian dalam
Journal of Environmental Psychology (2025) menunjukkan bahwa individu yang
memandang alam sebagai amanah yang suci memiliki kecenderungan lebih tinggi
untuk terlibat dalam aksi pelestarian lingkungan secara konsisten dibandingkan
mereka yang hanya melihat alam sebagai sumber daya ekonomi.
Di sinilah
literasi digital memiliki peran penting. Teknologi dapat membantu manusia
menghitung jejak karbon, mengakses edukasi lingkungan, menggalang donasi
konservasi, hingga mengorganisasi gerakan penghijauan. Namun, teknologi juga
dapat melahirkan slacktivism, yaitu kepedulian yang berhenti pada tombol
like, share, atau komentar tanpa tindakan nyata. Literasi digital yang
matang tidak hanya mengajarkan cara menyebarkan informasi, tetapi juga
menggerakkan perubahan perilaku. Membagikan kampanye lingkungan tentu baik,
tetapi akan lebih bermakna jika diikuti dengan mengurangi penggunaan plastik
sekali pakai, memilah sampah, menghemat energi, atau ikut menanam pohon.
Teknologi seharusnya menjadi jembatan menuju aksi, bukan pengganti aksi itu
sendiri.
Melalui Lensa
Spiritualitas, Islam telah menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian
dari amanah manusia di bumi. Allah Swt. berfirman, "Dan janganlah kamu
membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya." (QS.
Al-A'raf [7]: 56). Rasulullah ï·º juga bersabda, "Jika kiamat telah tiba sementara di
tangan salah seorang dari kalian ada benih kurma, maka jika ia mampu menanamnya
sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad No.12981). Hadis tersebut mengajarkan optimisme ekologis bahwa setiap ikhtiar
menjaga alam memiliki nilai ibadah, meskipun hasilnya mungkin tidak kita
nikmati sendiri. Menanam pohon, menghemat air ketika berwudu, tidak membuang
sampah sembarangan, hingga menggunakan sumber daya secara bijaksana merupakan
bentuk syukur atas nikmat Allah sekaligus wujud penghambaan kepada-Nya.
Perspektif
tersebut juga selaras dengan pembangunan karakter bangsa. Melalui Lensa
Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila mendorong peserta didik menjadi pribadi yang
beriman, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan
kehidupan bersama. Penelitian dalam Ecological Economics (2024)
menunjukkan bahwa komunitas yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam
pengelolaan lingkungan memiliki tingkat keberlanjutan sumber daya alam yang
lebih baik. Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui pembaruan target NationallyDetermined Contribution (NDC) terus mendorong pengurangan emisi gas rumah
kaca. Namun, keberhasilan kebijakan tersebut tidak hanya bergantung pada
regulasi, melainkan juga pada perubahan perilaku setiap warga negara. Langkah
kecil seperti membawa botol minum sendiri, mengurangi pemborosan listrik, atau
memilih transportasi yang lebih ramah lingkungan merupakan kontribusi nyata
terhadap tujuan tersebut.
Pada akhirnya,
merawat bumi bukan sekadar gerakan lingkungan, melainkan bagian dari ibadah
yang mencerminkan kualitas keimanan. Pertanyaannya bukan, "Seberapa
besar perubahan yang dapat saya lakukan?", melainkan, "Apakah
tindakan saya hari ini sudah menjaga amanah yang Allah titipkan?"
Ketika kita memandang alam sebagai ayat-ayat kauniyah yang mengingatkan kepada
kebesaran-Nya, menjaga lingkungan tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi
menjadi wujud cinta kepada Sang Pencipta melalui kasih sayang terhadap seluruh
ciptaan-Nya.
Namun, menjaga
bumi tidak hanya membutuhkan kepedulian individu, melainkan juga sistem yang
adil dalam memanfaatkan teknologi. Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan
buatan, mampukah algoritma membantu mengurangi ketidakadilan, atau justru
memperkuat diskriminasi yang telah lama ada? Pertanyaan inilah yang akan kita
bahas pada artikel berikutnya, "Algoritma Keadilan: Bisakah Teknologi
Memerangi Diskriminasi?"
Sumber:
Al-Qur'an al-Karim, QS.
Al-A'raf (7): 56. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/7?from=56&to=56
Imam Ahmad ibn Hanbal.
Musnad Ahmad, No. 12981. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
World Meteorological
Organization (WMO). (2025). State of the Global Climate 2024. Geneva. https://wmo.int/publication-series/state-of-global-climate-2024
Lee, S., & Kim, J.
(2025). Spiritual Orientation and Pro-Environmental Behavior: The Mediating
Role of Nature Connectedness. Journal of Environmental Psychology, 89,
105-120. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2025.105120
Green, P., &
Smith, A. (2024). Faith-Based Environmental Stewardship and Sustainable
Resource Management. Ecological Economics, 198, 107-119. https://doi.org/10.1016/j.ecolecon.2024.107119
Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan RI. (2025). Updated Nationally Determined Contribution
(NDC) Indonesia. Jakarta. https://menlhk.go.id
Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi,
Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka.
Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

😵😵😵🥴🥴🥴