Merawat Bumi Sebagai Ibadah: Spiritualitas Ekologis dalam Aksi Nyata

Daftar Isi

Lensa Ekologi | Artikel #20 dari Seri Lensa Literasi 

Ilustrasi tangan memegang tunas hijau dengan latar belakang cahaya matahari terbit, simbolisasi harapan dan tanggung jawab ekologis.

"Bumi tidak diwariskan kepada kita oleh nenek moyang, melainkan dipinjamkan oleh anak-anak kita." (Pepatah Native American Adaptif).

Pada artikel sebelumnya, "Pendidikan Karakter di Era AI: Mengapa Empati Lebih Penting dari Kode?", kita telah memahami bahwa kecerdasan teknologi harus dibarengi dengan karakter dan empati agar tetap berpihak kepada kemanusiaan. Namun, empati tidak hanya diwujudkan dalam hubungan antarmanusia, melainkan juga dalam cara kita memperlakukan alam sebagai rumah bersama. Melalui Lensa Digital, kita menyaksikan setiap hari berita tentang banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan cuaca ekstrem yang semakin sering menghiasi ruang informasi. Ironisnya, kita bisa begitu peduli terhadap isu lingkungan di belahan dunia lain, tetapi sering kali mengabaikan sampah di sekitar rumah sendiri. Pertanyaannya, mungkinkah seseorang mengaku mencintai Sang Pencipta, tetapi abai terhadap ciptaan-Nya?

Laporan WorldMeteorological Organization (WMO, 2025) mencatat bahwa tahun 2024 menjadi tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern, dengan peningkatan suhu global yang memicu berbagai bencana hidrometeorologi di banyak negara. Perubahan iklim kini bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang telah memengaruhi kesehatan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat. Sayangnya, respons yang muncul sering berhenti pada rasa cemas (eco-anxiety) atau unggahan media sosial yang tidak diikuti perubahan perilaku. Padahal, penelitian dalam Journal of Environmental Psychology (2025) menunjukkan bahwa individu yang memandang alam sebagai amanah yang suci memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk terlibat dalam aksi pelestarian lingkungan secara konsisten dibandingkan mereka yang hanya melihat alam sebagai sumber daya ekonomi.

Di sinilah literasi digital memiliki peran penting. Teknologi dapat membantu manusia menghitung jejak karbon, mengakses edukasi lingkungan, menggalang donasi konservasi, hingga mengorganisasi gerakan penghijauan. Namun, teknologi juga dapat melahirkan slacktivism, yaitu kepedulian yang berhenti pada tombol like, share, atau komentar tanpa tindakan nyata. Literasi digital yang matang tidak hanya mengajarkan cara menyebarkan informasi, tetapi juga menggerakkan perubahan perilaku. Membagikan kampanye lingkungan tentu baik, tetapi akan lebih bermakna jika diikuti dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, menghemat energi, atau ikut menanam pohon. Teknologi seharusnya menjadi jembatan menuju aksi, bukan pengganti aksi itu sendiri.

Melalui Lensa Spiritualitas, Islam telah menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari amanah manusia di bumi. Allah Swt. berfirman, "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya." (QS. Al-A'raf [7]: 56). Rasulullah ï·º juga bersabda, "Jika kiamat telah tiba sementara di tangan salah seorang dari kalian ada benih kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad No.12981). Hadis tersebut mengajarkan optimisme ekologis bahwa setiap ikhtiar menjaga alam memiliki nilai ibadah, meskipun hasilnya mungkin tidak kita nikmati sendiri. Menanam pohon, menghemat air ketika berwudu, tidak membuang sampah sembarangan, hingga menggunakan sumber daya secara bijaksana merupakan bentuk syukur atas nikmat Allah sekaligus wujud penghambaan kepada-Nya.

Perspektif tersebut juga selaras dengan pembangunan karakter bangsa. Melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila mendorong peserta didik menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan bersama. Penelitian dalam Ecological Economics (2024) menunjukkan bahwa komunitas yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam pengelolaan lingkungan memiliki tingkat keberlanjutan sumber daya alam yang lebih baik. Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui pembaruan target NationallyDetermined Contribution (NDC) terus mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca. Namun, keberhasilan kebijakan tersebut tidak hanya bergantung pada regulasi, melainkan juga pada perubahan perilaku setiap warga negara. Langkah kecil seperti membawa botol minum sendiri, mengurangi pemborosan listrik, atau memilih transportasi yang lebih ramah lingkungan merupakan kontribusi nyata terhadap tujuan tersebut.

Pada akhirnya, merawat bumi bukan sekadar gerakan lingkungan, melainkan bagian dari ibadah yang mencerminkan kualitas keimanan. Pertanyaannya bukan, "Seberapa besar perubahan yang dapat saya lakukan?", melainkan, "Apakah tindakan saya hari ini sudah menjaga amanah yang Allah titipkan?" Ketika kita memandang alam sebagai ayat-ayat kauniyah yang mengingatkan kepada kebesaran-Nya, menjaga lingkungan tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi menjadi wujud cinta kepada Sang Pencipta melalui kasih sayang terhadap seluruh ciptaan-Nya.

Namun, menjaga bumi tidak hanya membutuhkan kepedulian individu, melainkan juga sistem yang adil dalam memanfaatkan teknologi. Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, mampukah algoritma membantu mengurangi ketidakadilan, atau justru memperkuat diskriminasi yang telah lama ada? Pertanyaan inilah yang akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Algoritma Keadilan: Bisakah Teknologi Memerangi Diskriminasi?"

 

Sumber:

Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-A'raf (7): 56. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/7?from=56&to=56

Imam Ahmad ibn Hanbal. Musnad Ahmad, No. 12981. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith

World Meteorological Organization (WMO). (2025). State of the Global Climate 2024. Geneva. https://wmo.int/publication-series/state-of-global-climate-2024

Lee, S., & Kim, J. (2025). Spiritual Orientation and Pro-Environmental Behavior: The Mediating Role of Nature Connectedness. Journal of Environmental Psychology, 89, 105-120.  https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2025.105120

Green, P., & Smith, A. (2024). Faith-Based Environmental Stewardship and Sustainable Resource Management. Ecological Economics, 198, 107-119.  https://doi.org/10.1016/j.ecolecon.2024.107119

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. (2025). Updated Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Jakarta. https://menlhk.go.id

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

United Nations Environment Programme (UNEP). (2024). Faith for Earth: A Call for Action. Nairobi. https://www.unep.org/faith-for-earth

2 komentar

Deli Dermawan
22 November, 2018 Hapus
mohon izin share
Unknown
27 Januari, 2021 Hapus
Kesimpulannya?
😵😵😵🥴🥴🥴