Di Balik Layar yang Berkedip: Mencari Tuhan dalam Keheningan Digital
"Keheningan
bukan berarti tidak ada suara. Ia adalah ruang di mana jiwa akhirnya bisa
mendengar bisikan hati dan panggilan Ilahi." (Thomas
Merton).
Pada artikel
sebelumnya, "Pendidikan Humanis di Era Digital: Membentuk Manusia Utuh,
Bukan Sekadar Pekerja Terampil," kita memahami bahwa keberhasilan
pendidikan tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari
kemampuan membentuk manusia yang berkarakter, berempati, dan memiliki kesadaran
spiritual. Namun, karakter yang kuat tidak lahir dari kehidupan yang terus
dipenuhi kebisingan. Ia bertumbuh melalui keheningan yang memberi ruang bagi
hati untuk merenung. Melalui Lensa Digital, kita diingatkan bahwa tantangan terbesar
manusia modern bukan sekadar banjir informasi, melainkan hilangnya kesempatan
untuk benar-benar hadir bersama dirinya sendiri dan bersama Tuhannya.
Perkembangan
teknologi membuat manusia hampir tidak pernah benar-benar sendiri. Notifikasi,
media sosial, dan berbagai aplikasi terus menuntut perhatian setiap saat.
Penelitian dalam Journal of Religion and Health (2025) menunjukkan bahwa
penggunaan media sosial secara berlebihan berkaitan dengan menurunnya kemampuan
refleksi diri, meningkatnya kecemasan, serta berkurangnya kualitas kehidupan
spiritual. Fenomena ini memperlihatkan bahwa koneksi digital yang semakin luas
belum tentu menghadirkan kedamaian batin. Sebaliknya, hati sering kali menjadi
penuh oleh hiruk-pikuk informasi sehingga kehilangan ruang untuk tafakur dan
bermuhasabah.
Temuan tersebut
diperkuat oleh penelitian dalam Nature Human Behaviour (2024) yang
menjelaskan bahwa saat seseorang menikmati periode hening tanpa gangguan
digital, otak mengaktifkan default mode network (DMN), yaitu jaringan
saraf yang berperan dalam refleksi diri, pemaknaan hidup, kreativitas, dan
empati. Sebaliknya, paparan notifikasi yang terus-menerus membuat otak tetap
berada dalam kondisi siaga sehingga sulit mencapai ketenangan yang mendalam.
Karena itu, melalui Lensa Digital, literasi digital tidak hanya berarti mampu
menggunakan teknologi secara cerdas, tetapi juga memiliki kemampuan mengatur
batas penggunaan teknologi agar tidak menguasai hidup. Mematikan notifikasi
ketika beribadah, menyediakan waktu tanpa gawai, atau membiasakan jeda sebelum
membuka media sosial merupakan bentuk disiplin digital yang menjaga kesehatan
jiwa sekaligus memperkuat hubungan dengan Allah Swt.
Melalui Lensa
Spiritualitas, Islam sejak awal telah mengajarkan bahwa ketenangan sejati
bersumber dari kedekatan kepada Allah. Firman-Nya, "Ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]:
28), menegaskan bahwa ketenteraman tidak dapat digantikan oleh popularitas,
jumlah pengikut, maupun derasnya arus informasi. Rasulullah ï·º juga bersabda, "Ketahuilah,
di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh
tubuh; ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan bahwa kualitas hidup seseorang sangat ditentukan oleh
kondisi hatinya. Keheningan menjadi ruang untuk membersihkan hati dari
kegelisahan, memperbanyak dzikir, serta memperkuat kesadaran bahwa teknologi
hanyalah sarana, bukan tujuan kehidupan.
Nilai tersebut
sejalan dengan Lensa Ekologi yang memandang alam sebagai ruang terbaik untuk
memulihkan jiwa. Penelitian Environmental Psychology (2025) menunjukkan
bahwa waktu yang dihabiskan di alam tanpa gangguan perangkat digital mampu
meningkatkan rasa syukur, kekaguman (awe), serta kepedulian terhadap
lingkungan. Sementara itu, melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila
pada dimensi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia
menekankan pentingnya membangun kebiasaan refleksi, pengendalian diri, serta
keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual. Pendidikan yang
memanusiakan tidak hanya mengajarkan peserta didik untuk berpikir cepat, tetapi
juga mengajarkan kapan mereka perlu berhenti, merenung, dan mendengarkan suara
hati.
Pada akhirnya,
mencari Tuhan di era digital bukan berarti meninggalkan teknologi, melainkan
menghadirkan kesadaran dalam menggunakannya. Ketika kita berani menyediakan
waktu untuk diam, mematikan sejenak layar yang terus berkedip, dan menghidupkan
hati melalui dzikir serta tafakur, kita sedang mengembalikan teknologi pada
tempatnya sebagai alat yang melayani kehidupan, bukan menguasainya. Pertanyaan
yang layak kita renungkan bukanlah, "Berapa lama saya mampu hidup tanpa
gawai?", melainkan, "Sudahkah teknologi mendekatkan saya
kepada Allah dan menjadikan saya manusia yang lebih baik?"
Namun, kedekatan
kepada Allah tidak berhenti pada hubungan vertikal semata. Keimanan yang hidup
akan selalu melahirkan tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan-Nya. Setelah
menemukan ketenangan dalam keheningan, langkah berikutnya adalah mewujudkan
rasa syukur melalui kepedulian terhadap bumi yang kita huni bersama. Bagaimana
Islam memandang amanah menjaga lingkungan? Mengapa merawat alam merupakan
bagian dari ibadah dan tanggung jawab seorang khalifah di muka bumi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Bumi
Bukan Warisan Leluhur, tetapi Pinjaman Anak Cucu: Bisakah Kita Mengembalikannya
Utuh?"
Sumber:
Al-Qur'an al-Karim,
QS. Ar-Ra'd (13): 28. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/13?from=28&to=28
Al-Bukhari &
Muslim. Shahih al-Bukhari & Shahih Muslim, Kitab al-Iman, No. 52.
Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Lee, S., & Kim, J.
(2025). Digital Media Use, Mindfulness, and Spiritual Well-being: A
Longitudinal Study. Journal of Religion and Health, 64(2), 112–128. https://doi.org/10.1007/s10943-024-01123-x
Thompson, R., &
Chen, L. (2024). Silence, Default Mode Network, and Existential Meaning Making.
Nature Human Behaviour, 8, 450–462. https://doi.org/10.1038/s41562-024-00812-x
Green, P., &
Smith, A. (2025). Nature Exposure, Digital Detox, and the Experience of Awe. Environmental Psychology, 89, 104–118. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2025.104118
Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi,
Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka.
Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id
Merton, T. (1971). Contemplation
in a World of Action. Doubleday.

Posting Komentar