Di Balik Layar yang Berkedip: Mencari Tuhan dalam Keheningan Digital

Daftar Isi

Lensa Spiritualitas | Artikel #27 dari Seri Lensa Literasi

Ilustrasi siluet seseorang berdoa dengan latar belakang layar smartphone yang redup dan cahaya rembulan.

"Keheningan bukan berarti tidak ada suara. Ia adalah ruang di mana jiwa akhirnya bisa mendengar bisikan hati dan panggilan Ilahi." (Thomas Merton).

 

Pada artikel sebelumnya, "Pendidikan Humanis di Era Digital: Membentuk Manusia Utuh, Bukan Sekadar Pekerja Terampil," kita memahami bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kemampuan membentuk manusia yang berkarakter, berempati, dan memiliki kesadaran spiritual. Namun, karakter yang kuat tidak lahir dari kehidupan yang terus dipenuhi kebisingan. Ia bertumbuh melalui keheningan yang memberi ruang bagi hati untuk merenung. Melalui Lensa Digital, kita diingatkan bahwa tantangan terbesar manusia modern bukan sekadar banjir informasi, melainkan hilangnya kesempatan untuk benar-benar hadir bersama dirinya sendiri dan bersama Tuhannya.

Perkembangan teknologi membuat manusia hampir tidak pernah benar-benar sendiri. Notifikasi, media sosial, dan berbagai aplikasi terus menuntut perhatian setiap saat. Penelitian dalam Journal of Religion and Health (2025) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berkaitan dengan menurunnya kemampuan refleksi diri, meningkatnya kecemasan, serta berkurangnya kualitas kehidupan spiritual. Fenomena ini memperlihatkan bahwa koneksi digital yang semakin luas belum tentu menghadirkan kedamaian batin. Sebaliknya, hati sering kali menjadi penuh oleh hiruk-pikuk informasi sehingga kehilangan ruang untuk tafakur dan bermuhasabah.

Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian dalam Nature Human Behaviour (2024) yang menjelaskan bahwa saat seseorang menikmati periode hening tanpa gangguan digital, otak mengaktifkan default mode network (DMN), yaitu jaringan saraf yang berperan dalam refleksi diri, pemaknaan hidup, kreativitas, dan empati. Sebaliknya, paparan notifikasi yang terus-menerus membuat otak tetap berada dalam kondisi siaga sehingga sulit mencapai ketenangan yang mendalam. Karena itu, melalui Lensa Digital, literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan teknologi secara cerdas, tetapi juga memiliki kemampuan mengatur batas penggunaan teknologi agar tidak menguasai hidup. Mematikan notifikasi ketika beribadah, menyediakan waktu tanpa gawai, atau membiasakan jeda sebelum membuka media sosial merupakan bentuk disiplin digital yang menjaga kesehatan jiwa sekaligus memperkuat hubungan dengan Allah Swt.

Melalui Lensa Spiritualitas, Islam sejak awal telah mengajarkan bahwa ketenangan sejati bersumber dari kedekatan kepada Allah. Firman-Nya, "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]: 28), menegaskan bahwa ketenteraman tidak dapat digantikan oleh popularitas, jumlah pengikut, maupun derasnya arus informasi. Rasulullah ï·º juga bersabda, "Ketahuilah, di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan bahwa kualitas hidup seseorang sangat ditentukan oleh kondisi hatinya. Keheningan menjadi ruang untuk membersihkan hati dari kegelisahan, memperbanyak dzikir, serta memperkuat kesadaran bahwa teknologi hanyalah sarana, bukan tujuan kehidupan.

Nilai tersebut sejalan dengan Lensa Ekologi yang memandang alam sebagai ruang terbaik untuk memulihkan jiwa. Penelitian Environmental Psychology (2025) menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan di alam tanpa gangguan perangkat digital mampu meningkatkan rasa syukur, kekaguman (awe), serta kepedulian terhadap lingkungan. Sementara itu, melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila pada dimensi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia menekankan pentingnya membangun kebiasaan refleksi, pengendalian diri, serta keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual. Pendidikan yang memanusiakan tidak hanya mengajarkan peserta didik untuk berpikir cepat, tetapi juga mengajarkan kapan mereka perlu berhenti, merenung, dan mendengarkan suara hati.

Pada akhirnya, mencari Tuhan di era digital bukan berarti meninggalkan teknologi, melainkan menghadirkan kesadaran dalam menggunakannya. Ketika kita berani menyediakan waktu untuk diam, mematikan sejenak layar yang terus berkedip, dan menghidupkan hati melalui dzikir serta tafakur, kita sedang mengembalikan teknologi pada tempatnya sebagai alat yang melayani kehidupan, bukan menguasainya. Pertanyaan yang layak kita renungkan bukanlah, "Berapa lama saya mampu hidup tanpa gawai?", melainkan, "Sudahkah teknologi mendekatkan saya kepada Allah dan menjadikan saya manusia yang lebih baik?"

 

Namun, kedekatan kepada Allah tidak berhenti pada hubungan vertikal semata. Keimanan yang hidup akan selalu melahirkan tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan-Nya. Setelah menemukan ketenangan dalam keheningan, langkah berikutnya adalah mewujudkan rasa syukur melalui kepedulian terhadap bumi yang kita huni bersama. Bagaimana Islam memandang amanah menjaga lingkungan? Mengapa merawat alam merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab seorang khalifah di muka bumi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Bumi Bukan Warisan Leluhur, tetapi Pinjaman Anak Cucu: Bisakah Kita Mengembalikannya Utuh?"

 

Sumber:

Al-Qur'an al-Karim, QS. Ar-Ra'd (13): 28. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/13?from=28&to=28

Al-Bukhari & Muslim. Shahih al-Bukhari & Shahih Muslim, Kitab al-Iman, No. 52. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith

Lee, S., & Kim, J. (2025). Digital Media Use, Mindfulness, and Spiritual Well-being: A Longitudinal Study. Journal of Religion and Health, 64(2), 112–128.  https://doi.org/10.1007/s10943-024-01123-x

Thompson, R., & Chen, L. (2024). Silence, Default Mode Network, and Existential Meaning Making. Nature Human Behaviour, 8, 450–462. https://doi.org/10.1038/s41562-024-00812-x

Green, P., & Smith, A. (2025). Nature Exposure, Digital Detox, and the Experience of Awe.  Environmental Psychology, 89, 104–118. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2025.104118

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

Merton, T. (1971). Contemplation in a World of Action. Doubleday.

Turkle, S. (2015). Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age. Penguin Press.

Posting Komentar