Bumi Bukan Warisan Leluhur, Tapi Pinjaman Anak Cucu: Bisakah Kita Mengembalikannya Utuh?
"Seandainya
hari kiamat telah tegak sedangkan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit
kurma, maka tanamlah." (HR. Ahmad, No. 12981).
Pada artikel
sebelumnya, "Di Balik Layar yang Berkedip: Mencari Tuhan dalam
Keheningan Digital," kita diajak menyadari bahwa ketenangan hati hanya
dapat ditemukan ketika manusia mampu menghadirkan ruang hening untuk mendekat
kepada Allah Swt. Namun, kedekatan spiritual tersebut tidak berhenti pada
hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Keimanan yang sejati juga tercermin
dalam cara kita memperlakukan bumi sebagai rumah bersama. Melalui Lensa
Spiritualitas, kita memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan
gaya hidup, melainkan bagian dari amanah sebagai khalifah di muka bumi yang
akan dimintai pertanggungjawaban.
Realitas hari
ini menunjukkan bahwa bumi sedang menghadapi tantangan yang semakin serius.
Laporan United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2024
menegaskan bahwa perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta
pencemaran lingkungan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Di
Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat
peningkatan kejadian banjir, tanah longsor, dan bencana hidrometeorologi
lainnya dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai peristiwa tersebut mengingatkan
bahwa kerusakan lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan
yang telah memengaruhi kehidupan masyarakat saat ini. Karena itu, menjaga bumi
bukan hanya urusan para aktivis lingkungan, tetapi tanggung jawab setiap
manusia.
Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan akan lebih bertahan
apabila lahir dari kesadaran moral, bukan sekadar kewajiban administratif.
Penelitian dalam Journal of Environmental Psychology (2025) menemukan
bahwa individu yang memandang alam sebagai amanah dari Tuhan memiliki perilaku
ramah lingkungan yang lebih konsisten dibandingkan mereka yang hanya terdorong
oleh aturan atau sanksi. Melalui Lensa Digital, kesadaran tersebut semakin
relevan karena aktivitas digital ternyata juga meninggalkan jejak ekologis.
Setiap transaksi daring, penggunaan pusat data, konsumsi perangkat elektronik,
hingga limbah digital memiliki dampak nyata terhadap lingkungan. Literasi
digital pada akhirnya tidak hanya mengajarkan kecakapan menggunakan teknologi,
tetapi juga tanggung jawab menggunakan teknologi secara bijaksana dan
berkelanjutan.
Nilai tersebut
sejalan dengan ajaran Islam. Allah Swt. berfirman, "Dan janganlah kamu
membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya." (QS.
Al-A'raf [7]: 56). Ayat ini menjadi pengingat bahwa manusia bukan pemilik
mutlak bumi, melainkan penjaga yang diberi amanah untuk memeliharanya.
Rasulullah ï·º juga
bersabda, "Apabila hari kiamat terjadi sementara di tangan salah
seorang di antara kalian terdapat benih kurma, maka jika ia mampu menanamnya
sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad).
Hadis tersebut mengajarkan optimisme dan tanggung jawab. Sekecil apa pun
ikhtiar menjaga lingkungan tetap memiliki nilai ibadah di sisi Allah, sekalipun
hasilnya dinikmati oleh generasi setelah kita.
Melalui Lensa
Pedagogi, nilai kepedulian terhadap lingkungan perlu ditanamkan sejak dini
sebagai bagian dari pembentukan karakter. Profil Pelajar Pancasila mendorong
peserta didik menjadi pribadi yang beriman, bergotong royong, serta memiliki
kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Sementara itu, melalui Lensa
Kesejahteraan, World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa kualitas
lingkungan sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia, mulai dari kualitas
udara, air bersih, hingga meningkatnya risiko penyakit akibat perubahan iklim.
Dengan demikian, merawat bumi sesungguhnya adalah investasi bagi kualitas hidup
manusia sendiri.
Pada akhirnya,
bumi bukanlah warisan yang bebas kita habiskan, melainkan titipan yang harus
kita serahkan kembali kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik.
Pertanyaan yang layak kita renungkan bukanlah, "Apa yang telah
diberikan bumi kepada saya?", melainkan, "Warisan seperti apa
yang akan saya tinggalkan bagi anak cucu kelak?" Setiap pohon yang
ditanam, setiap sampah yang dikurangi, dan setiap keputusan sederhana untuk
hidup lebih bijaksana adalah bentuk syukur kepada Allah sekaligus wujud kasih
sayang kepada generasi yang belum lahir.
Namun, menjaga bumi
juga membutuhkan manusia yang memiliki kebijaksanaan dalam menggunakan
teknologi. Di tengah perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang mampu
menulis, menganalisis, bahkan mengambil keputusan dengan sangat cepat, muncul
pertanyaan yang semakin penting: apa yang masih menjadi keunggulan manusia?
Apakah pendidikan cukup mengajarkan keterampilan teknis, atau justru harus
lebih menumbuhkan akhlak, empati, dan kebijaksanaan? Pertanyaan-pertanyaan
tersebut akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Ketika AI Bisa
Menulis Esai Sempurna: Apa yang Tersisa untuk Diajarkan pada Manusia?"
Sumber:
HR. Ahmad ibn Hanbal. Musnad
Ahmad, No. 12981. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Al-Qur'an al-Karim,
QS. Al-A'raf (7): 56. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/7?from=56&to=56
United Nations
Environment Programme (UNEP). (2024). Global Environment Outlook 7: Healthy
Planet, Healthy People. Nairobi. https://www.unep.org/resources/global-environment-outlook-7
Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB). (2025). Laporan Tahunan Bencana Indonesia
2024. Jakarta. https://bnpb.go.id
Lee, S., & Kim, J.
(2025). Spiritual Orientation and Pro-Environmental Behavior: The Mediating
Role of Nature Connectedness. Journal of Environmental Psychology, 89,
105-120. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2025.105120
Green, P., & Smith,
A. (2024). Faith-Based Environmental Stewardship and Sustainable Resource
Management. Ecological Economics, 198, 107-119. https://doi.org/10.1016/j.ecolecon.2024.107119
World Health
Organization (WHO). (2025). Climate Change and Health: Global Status Report.
Geneva. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/climate-change-and-health

Posting Komentar