Bumi Bukan Warisan Leluhur, Tapi Pinjaman Anak Cucu: Bisakah Kita Mengembalikannya Utuh?

Daftar Isi

Lensa Ekologi | Artikel #28 dari Seri Lensa Literasi

Ilustrasi tangan dewasa menyerahkan tunas hijau ke tangan anak kecil dengan latar belakang cahaya matahari terbit.

"Seandainya hari kiamat telah tegak sedangkan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit kurma, maka tanamlah." (HR. Ahmad, No. 12981).

Pada artikel sebelumnya, "Di Balik Layar yang Berkedip: Mencari Tuhan dalam Keheningan Digital," kita diajak menyadari bahwa ketenangan hati hanya dapat ditemukan ketika manusia mampu menghadirkan ruang hening untuk mendekat kepada Allah Swt. Namun, kedekatan spiritual tersebut tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Keimanan yang sejati juga tercermin dalam cara kita memperlakukan bumi sebagai rumah bersama. Melalui Lensa Spiritualitas, kita memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan bagian dari amanah sebagai khalifah di muka bumi yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Realitas hari ini menunjukkan bahwa bumi sedang menghadapi tantangan yang semakin serius. Laporan United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2024 menegaskan bahwa perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta pencemaran lingkungan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat peningkatan kejadian banjir, tanah longsor, dan bencana hidrometeorologi lainnya dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai peristiwa tersebut mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang telah memengaruhi kehidupan masyarakat saat ini. Karena itu, menjaga bumi bukan hanya urusan para aktivis lingkungan, tetapi tanggung jawab setiap manusia.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan akan lebih bertahan apabila lahir dari kesadaran moral, bukan sekadar kewajiban administratif. Penelitian dalam Journal of Environmental Psychology (2025) menemukan bahwa individu yang memandang alam sebagai amanah dari Tuhan memiliki perilaku ramah lingkungan yang lebih konsisten dibandingkan mereka yang hanya terdorong oleh aturan atau sanksi. Melalui Lensa Digital, kesadaran tersebut semakin relevan karena aktivitas digital ternyata juga meninggalkan jejak ekologis. Setiap transaksi daring, penggunaan pusat data, konsumsi perangkat elektronik, hingga limbah digital memiliki dampak nyata terhadap lingkungan. Literasi digital pada akhirnya tidak hanya mengajarkan kecakapan menggunakan teknologi, tetapi juga tanggung jawab menggunakan teknologi secara bijaksana dan berkelanjutan.

Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Islam. Allah Swt. berfirman, "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya." (QS. Al-A'raf [7]: 56). Ayat ini menjadi pengingat bahwa manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan penjaga yang diberi amanah untuk memeliharanya. Rasulullah ï·º juga bersabda, "Apabila hari kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang di antara kalian terdapat benih kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad). Hadis tersebut mengajarkan optimisme dan tanggung jawab. Sekecil apa pun ikhtiar menjaga lingkungan tetap memiliki nilai ibadah di sisi Allah, sekalipun hasilnya dinikmati oleh generasi setelah kita.

Melalui Lensa Pedagogi, nilai kepedulian terhadap lingkungan perlu ditanamkan sejak dini sebagai bagian dari pembentukan karakter. Profil Pelajar Pancasila mendorong peserta didik menjadi pribadi yang beriman, bergotong royong, serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Sementara itu, melalui Lensa Kesejahteraan, World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa kualitas lingkungan sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia, mulai dari kualitas udara, air bersih, hingga meningkatnya risiko penyakit akibat perubahan iklim. Dengan demikian, merawat bumi sesungguhnya adalah investasi bagi kualitas hidup manusia sendiri.

Pada akhirnya, bumi bukanlah warisan yang bebas kita habiskan, melainkan titipan yang harus kita serahkan kembali kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik. Pertanyaan yang layak kita renungkan bukanlah, "Apa yang telah diberikan bumi kepada saya?", melainkan, "Warisan seperti apa yang akan saya tinggalkan bagi anak cucu kelak?" Setiap pohon yang ditanam, setiap sampah yang dikurangi, dan setiap keputusan sederhana untuk hidup lebih bijaksana adalah bentuk syukur kepada Allah sekaligus wujud kasih sayang kepada generasi yang belum lahir.

 

Namun, menjaga bumi juga membutuhkan manusia yang memiliki kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi. Di tengah perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang mampu menulis, menganalisis, bahkan mengambil keputusan dengan sangat cepat, muncul pertanyaan yang semakin penting: apa yang masih menjadi keunggulan manusia? Apakah pendidikan cukup mengajarkan keterampilan teknis, atau justru harus lebih menumbuhkan akhlak, empati, dan kebijaksanaan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Ketika AI Bisa Menulis Esai Sempurna: Apa yang Tersisa untuk Diajarkan pada Manusia?"

 

Sumber:

HR. Ahmad ibn Hanbal. Musnad Ahmad, No. 12981. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith

Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-A'raf (7): 56. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/7?from=56&to=56

United Nations Environment Programme (UNEP). (2024). Global Environment Outlook 7: Healthy Planet, Healthy People. Nairobi. https://www.unep.org/resources/global-environment-outlook-7

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2025). Laporan Tahunan Bencana Indonesia 2024. Jakarta. https://bnpb.go.id

Lee, S., & Kim, J. (2025). Spiritual Orientation and Pro-Environmental Behavior: The Mediating Role of Nature Connectedness. Journal of Environmental Psychology, 89, 105-120. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2025.105120

Green, P., & Smith, A. (2024). Faith-Based Environmental Stewardship and Sustainable Resource Management. Ecological Economics, 198, 107-119. https://doi.org/10.1016/j.ecolecon.2024.107119

World Health Organization (WHO). (2025). Climate Change and Health: Global Status Report. Geneva. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/climate-change-and-health

Al-Ghazali, I. (1996). Ihya' 'Ulum ad-Din. Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi.

Posting Komentar