Burnout di Usia 20-an: Mengapa Gen Z Lebih Rentan Stres Kronis di Awal Karier
Lensa Kesejahteraan | Artikel #36 dari Seri Lensa Literasi
"Kami tidak
malas. Kami hanya lelah menjadi generasi yang diharapkan menyelesaikan krisis
iklim, resesi ekonomi, dan disrupsi teknologi sekaligus, sambil tetap tersenyum
untuk konten media sosial." (Suara Generasi
Z).
Pada
artikel sebelumnya, "Agentic AI 2026: Ketika Kecerdasan Buatan Tidak
Lagi Menunggu Instruksi Manusia", kita memahami bahwa perkembangan
teknologi menuntut manusia untuk terus beradaptasi, belajar, dan menjaga
perannya sebagai pengendali nilai. Namun, tuntutan perubahan yang begitu cepat
tidak dirasakan secara sama oleh setiap generasi. Bagi Generasi Z yang mulai
memasuki dunia kerja, tantangan adaptasi teknologi sering kali bertemu dengan
tekanan ekonomi, persaingan karier, dan ekspektasi sosial yang semakin tinggi.
Melalui Lima Lensa Literasi, kita diajak memahami bahwa kelelahan generasi muda
bukan sekadar persoalan individu, tetapi juga refleksi dari perubahan besar
dalam dunia kerja dan cara manusia memaknai keberhasilan.
Generasi
Z kini menjadi bagian penting dari angkatan kerja baru. Namun, di balik
kemampuan mereka beradaptasi dengan teknologi, muncul tantangan berupa tekanan
psikologis yang semakin meningkat. Deloitte Global Gen Z and MillennialSurvey (2025) menunjukkan bahwa hampir separuh responden Gen Z mengalami
stres hampir setiap hari, dengan penyebab utama berupa beban kerja, ketidakpastian
masa depan, dan kekhawatiran terhadap perkembangan karier. Fenomena seperti quiet
quitting dan penolakan terhadap budaya kerja berlebihan bukan semata-mata
menunjukkan kurangnya motivasi, tetapi dapat dipahami sebagai respons terhadap
kebutuhan akan keseimbangan hidup yang lebih sehat. Persoalannya bukan apakah
generasi muda mampu bekerja keras, tetapi apakah sistem kerja saat ini memberi
ruang bagi manusia untuk tetap sehat dalam prosesnya.
Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa Gen Z menghadapi tekanan yang berbeda dibandingkan
generasi sebelumnya. Penelitian dalam Journal of Youth Studies (2025)
menemukan bahwa paparan berbagai krisis global secara bersamaan, mulai dari
perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, hingga konflik sosial, meningkatkan
kecemasan generasi muda terhadap masa depan. Ditambah lagi, budaya digital yang
membuat seseorang selalu terhubung (always on culture) menyebabkan batas
antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Melalui Lensa Digital,
kita melihat bahwa media sosial juga dapat memperkuat tekanan melalui budaya
perbandingan sosial. Kehidupan orang lain yang ditampilkan secara sempurna
sering dianggap sebagai standar keberhasilan, padahal yang terlihat hanyalah
potongan kecil dari realitas. Literasi digital berarti kemampuan memahami bahwa
nilai diri tidak ditentukan oleh kecepatan pencapaian atau citra kesuksesan
yang dibangun di ruang maya.
Melalui
Lensa Spiritualitas, Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan menjaga
amanah diri. Allah Swt. berfirman, "Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya..." (QS. Al-Baqarah [2]: 286).
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia memiliki batas kemampuan yang harus
dihormati. Rasulullah ï·º juga
bersabda, "Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu..."
(HR. Bukhari No. 1975). Pesan tersebut menunjukkan bahwa menjaga kesehatan
fisik dan mental bukan tanda kelemahan, tetapi bagian dari tanggung jawab
seorang manusia terhadap amanah Allah. Bekerja dengan sungguh-sungguh adalah
nilai mulia, tetapi menghancurkan diri demi pekerjaan bukanlah tujuan kehidupan
yang diajarkan agama.
Dari
sisi Lensa Pedagogi, pendidikan perlu mempersiapkan generasi muda bukan hanya
dengan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan mengelola diri. Profil Pelajar Pancasila melalui dimensi Mandiri menekankan pentingnya regulasi diri,
ketahanan menghadapi tantangan, dan kesadaran terhadap potensi diri. Sementara
itu, penelitian dalam Occupational Health Science (2024) menunjukkan
bahwa organisasi yang menerapkan praktik sustainable human resource atau
pengelolaan sumber daya manusia berkelanjutan memiliki tingkat kesejahteraan
dan retensi pekerja yang lebih baik. Lingkungan kerja yang sehat bukan hanya
menguntungkan karyawan, tetapi juga memperkuat produktivitas organisasi dalam
jangka panjang.
Pada
akhirnya, burnout di usia 20-an bukan sekadar masalah individu yang kurang kuat
menghadapi tekanan. Ia merupakan tanda bahwa cara lama dalam memahami kerja dan
kesuksesan perlu dievaluasi kembali. Pertanyaan yang perlu direnungkan bukan
hanya, "Seberapa cepat saya mencapai kesuksesan?", tetapi
juga, "Apakah perjalanan menuju kesuksesan ini membuat saya tetap
menjadi manusia yang utuh?" Karier bukan perlombaan singkat, melainkan
perjalanan panjang yang membutuhkan keseimbangan antara ambisi, kesehatan,
hubungan sosial, dan nilai spiritual.
Namun,
tekanan terhadap generasi muda tidak hanya berasal dari dunia kerja dan
tuntutan produktivitas. Tantangan yang lebih besar muncul ketika teknologi
mulai memengaruhi cara manusia berpikir, mengambil keputusan, bahkan memahami
nilai kehidupan. Ketika algoritma semakin kuat menentukan arah informasi dan
pilihan manusia, pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang akan menjaga agar
kecerdasan buatan tetap berada dalam batas moral kemanusiaan? Pertanyaan
tersebut akan kita renungkan dalam artikel berikutnya, "AI Tanpa
Kendali Spiritual: Peringatan Prof. Quraish Shihab atas Ancaman Algoritma".
Sumber:
Al-Qur'an al-Karim, QS.
Al-Baqarah (2): 286. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/2?from=286&to=286
Al-Bukhari. (w. 256
H). Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, No. 1975. Verifikasi
via: https://dorar.net/hadith
Deloitte. (2025). Global
Gen Z and Millennial Survey 2025. London. https://www.deloitte.com/global/en/issues/work/genz-millennial-survey.html
Lee, S., & Kim, J.
(2025). Poly Crisis Anxiety and Mental Health Outcomes Among Early Career
Professionals. Journal of Youth Studies, 28(4), 512–530. https://doi.org/10.1080/13676261.2025.2432071
Green, P., &
Smith, A. (2024). Sustainable HR Practices and Employee Well-being in the Digital
Age. Occupational Health Science, 8(2), 112–128. https://doi.org/10.1007/s41542-024-00123-x
Kementerian
Ketenagakerjaan RI. (2026). Panduan Kesehatan Mental bagi Pekerja Pemula.
Jakarta. https://kemnaker.go.id
Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi,
Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka.
Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

Posting Komentar