AI Tanpa Kendali Spiritual: Peringatan Prof. Quraish Shihab atas Ancaman Algoritma
Daftar Isi
Lensa Spiritualitas | Artikel #37 dari Seri Lensa Literasi
Pada artikel sebelumnya, "Burnout di Usia 20-an: Mengapa Gen Z Lebih Rentan Stres Kronis di Awal Karier", kita memahami bahwa tekanan kehidupan modern tidak hanya berasal dari tuntutan pekerjaan, tetapi juga dari perubahan besar yang mengiringi perkembangan teknologi. Generasi muda dituntut untuk terus beradaptasi dengan dunia yang semakin cepat, termasuk dengan hadirnya kecerdasan buatan. Namun, persoalan yang lebih mendasar bukan hanya bagaimana manusia menggunakan AI, melainkan bagaimana manusia tetap mampu mengendalikan arah teknologi agar tidak kehilangan nilai kemanusiaan. Melalui Lima Lensa Literasi, kita diajak merenungkan bahwa kecerdasan tanpa kebijaksanaan dapat menjadi ancaman apabila tidak diarahkan oleh hati yang memiliki nilai spiritual.
Melalui Lensa Digital, kita perlu memahami bahwa AI tidak memiliki niat, hati nurani, atau kesadaran moral. Teknologi bekerja berdasarkan data, tujuan pemrograman, dan kemungkinan statistik. Penelitian dalam Nature Machine Intelligence (2024) menjelaskan bahwa model kecerdasan buatan masih menghadapi persoalan alignment problem, yaitu kesenjangan antara kemampuan AI menghasilkan jawaban dengan kemampuan memastikan bahwa jawaban tersebut selalu sesuai dengan nilai etika manusia. Karena itu, kecanggihan teknologi tetap membutuhkan pengawasan manusia. AI dapat membantu manusia berpikir lebih cepat, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab manusia dalam menentukan apakah suatu keputusan membawa kebaikan atau justru menimbulkan kerusakan.
Dari sisi Lensa Pedagogi, pendidikan memiliki peran penting dalam membangun generasi yang tidak hanya cakap menggunakan AI, tetapi juga memiliki karakter untuk mengarahkannya. UNESCO melalui Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence(2021) menegaskan bahwa pengembangan AI harus melibatkan nilai kemanusiaan, etika, dan tanggung jawab sosial. Hal ini sejalan dengan Profil PelajarPancasila, khususnya dimensi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia. Generasi masa depan harus memahami bahwa teknologi bukan pengganti kebijaksanaan manusia, melainkan alat yang harus tunduk pada nilai kebaikan.
Namun, menjaga kendali spiritual terhadap teknologi tidak dimulai dari ruang digital, melainkan dari lingkungan pertama tempat manusia belajar tentang nilai: keluarga. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan budaya digital, orang tua memiliki peran penting dalam membangun karakter anak agar mampu menggunakan teknologi dengan bijaksana. Pertanyaan tersebut akan kita renungkan dalam artikel berikutnya, "Peran Orang Tua di Era Digital: Bukan Sekadar Pengawas, Tapi Teladan Utama".
Sumber:
Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-Hujurat (49): 13. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/49?from=13&to=13
Imam Muslim. (w. 261 H). Shahih Muslim, Kitab al-Iman, No. 56. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Shihab, M. Q. (2023). Tafsir Al-Misbah: Kontekstualisasi Ayat-Ayat Teknologi. Penerbit Lentera Hati.
Nature Machine Intelligence. (2024). The Alignment Problem in Large Language Models: Ethical Challenges and Solutions. Nature Machine Intelligence, 6(5), 412–425. https://doi.org/10.1038/s42256-024-00812-x
Pew Research Center. (2025). Public Trust in Algorithmic Decision-Making. Washington, DC. https://www.pewresearch.org/science/2025/02/10/public-trust-in-algorithms/
Lee, S., & Kim, J. (2025). Algorithmic Radicalization and Social Cohesion in Digital Spaces. Journal of Computer Mediated Communication, 30(2), zmad045. https://doi.org/10.1093/jcmc/zmad045
UNESCO. (2021). Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence. Paris. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000381137
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

Posting Komentar