Ilustrasi: Saum Sunnah Tasu'a dan 'Asyura (Sumber: Gemini AI)
Bulan Muharram telah tiba, membawa serta kesempatan emas untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Di antara hari-hari mulia tersebut, terdapat dua hari yang sangat istimewa, yaitu tanggal 9 (Tasu'a) dan 10 ('Asyura). Bukan sekadar tradisi, puasa pada kedua hari ini adalah janji rahmat yang dikabarkan oleh Rasulullah sebagai sarana penghapus dosa-dosa masa lalu. Bayangkan, sebuah ibadah sunnah yang ringan namun memberikan dampak spiritual yang begitu besar bagi jiwa kita.
Keutamaan puasa 'Asyura sendiri sangatlah agung dan didasarkan pada hadis sahih. Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
"Puasa hari 'Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim no. 1162)
Janji ini adalah pelukan hangat dari Tuhan bagi hamba-Nya yang ingin memulai lembaran baru dengan hati yang lebih bersih. Sementara itu, anjuran berpuasa juga pada hari Tasu'a (tanggal 9) merupakan bentuk ketaatan untuk menyelisihi kebiasaan umat terdahulu dan menyempurnakan sunnah. Hal ini didasarkan pada ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ketika mendengar Nabi ﷺ berpuasa 'Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk melakukannya:
ئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasu'a)." (HR. Muslim no. 1134)
Meskipun Nabi ﷺ wafat sebelum tahun berikutnya tiba, niat dan anjuran beliau tetap menjadi pedoman kuat bagi kita untuk mengamalkannya sebagai bentuk kecintaan kepada sunnah. Landasan dianjurkannya puasa di bulan Muharram juga ditegaskan dalam Al-Qur'an dan hadis tentang keutamaannya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
وَمَن تَعَمَّدَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
"...Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan, maka Allah akan melipatgandakan pahala baginya..." (QS. Al-Baqarah: 185)
Puasa sunnah di bulan haram seperti Muharram adalah salah satu kebajikan utama. Bahkan, Rasulullah ﷺ menyebut puasa Muharram sebagai puasa terbaik setelah Ramadan:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharram..." (HR. Muslim no. 1163)
Ini menunjukkan bahwa investasi amal di bulan ini memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi-Nya, melaksanakan sunnah ini bukan tentang beban, melainkan tentang kerinduan akan ampunan. Di tengah kesibukan dunia yang seringkali membuat kita lupa, tanggal 9 (Tasu'a) dan 10 ('Asyura) Muharram 1448 H adalah jeda suci untuk sejenak menahan dahaga demi rasa haus yang lebih abadi: keridhaan Ilahi. Saat perut kosong, hati justru menjadi lebih peka untuk bermunajat, lebih lembut untuk bersyukur, dan lebih dekat untuk bertaubat.
Mari kita sambut bulan Muharram 1448 H ini dengan langkah-langkah kecil yang penuh makna. Niatkan dalam hati untuk menghidupkan sunnah Tasu'a dan
'Asyura, bukan karena paksaan, tapi karena cinta kepada Nabi dan rindu akan surga-Nya. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, mengampuni segala khilaf yang telah lewat, dan menjadikan tahun ini sebagai awal dari kebaikan yang berkelanjutan. Karena sebaik-baik bekal bukanlah harta yang menumpuk, melainkan hati yang bersih dan dosa-dosa yang telah terampuni.

0 Komentar