Rindu Ampunan Allah SWT? Hidupkan Sunnah Tasu'a & 'Asyura
"Taubat adalah
kembali kepada Allah dengan meninggalkan apa yang dibenci-Nya menuju apa yang
dicintai-Nya." (Imam Al-Ghazali, Filosof &
Teolog Islam).
Pada artikel sebelumnya, "Pariwisata
Berkelanjutan: Jadi Tamu yang Bijak ", kita diajak menyadari bahwa
mencintai Indonesia diwujudkan melalui kepedulian terhadap alam, budaya, dan
sesama manusia. Namun, menjaga keseimbangan dengan lingkungan di sekitar kita
belumlah sempurna apabila hati masih dipenuhi beban dosa dan penyesalan. Di
tengah kesibukan kehidupan modern, Islam menghadirkan bulan Muharram sebagai
momentum untuk memperbarui hubungan dengan Allah Swt. Melalui Lensa
Spiritualitas, pergantian tahun Hijriah bukan sekadar perubahan kalender,
tetapi undangan untuk berhenti sejenak, melakukan muhasabah, dan memulai
lembaran kehidupan dengan hati yang lebih bersih.
Bulan Muharram termasuk salah satu dari
empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Sayangnya, bagi sebagian orang,
datangnya tahun baru Hijriah sering kali berlalu tanpa makna selain pergantian
tanggal. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa ritual keagamaan yang
dilakukan secara konsisten, seperti puasa sunnah dan refleksi diri, dapat
meningkatkan ketahanan mental, mengurangi stres, serta membantu seseorang
memiliki tujuan hidup yang lebih jelas. Di tengah derasnya arus informasi dan
tekanan kehidupan modern, setiap manusia membutuhkan "ruang
hening" untuk mengevaluasi diri, memperbaiki kesalahan, dan membangun
harapan baru. Momentum Muharram menghadirkan kesempatan itu dengan cara yang
sederhana, tetapi sangat bermakna.
Salah satu amalan yang paling dianjurkan
adalah puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram dan puasa 'Asyura pada tanggal 10
Muharram. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah, puasa juga melatih
pengendalian diri. Berbagai kajian psikologi modern menunjukkan bahwa kebiasaan
menunda kepuasan sesaat melalui puasa mampu meningkatkan self-regulation, yaitu
kemampuan mengendalikan emosi, keinginan, dan perilaku impulsif. Melalui Lensa
Kesejahteraan, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih
kesadaran penuh (mindfulness) agar setiap ucapan, pikiran, dan tindakan
menjadi lebih terarah. Ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya, ia akan
lebih mudah memaafkan, meminta maaf, dan menjalani hidup dengan hati yang lebih
tenang.
Melalui Lensa Spiritualitas, Allah Swt.
membuka pintu harapan seluas-luasnya bagi setiap hamba yang ingin kembali
kepada-Nya. Allah berfirman, "Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang
melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari
rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS.Az-Zumar [39]: 53). Rasulullah ï·º juga bersabda, "Puasa pada hari 'Asyura, aku berharap
kepada Allah dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu." (HR. Muslim No. 1162). Dalam riwayat lain, beliau berniat berpuasa pada hari
kesembilan Muharram (Tasu'a) agar berbeda dengan tradisi kaum Yahudi (HR. Muslim No. 1134). Hadis-hadis tersebut menunjukkan besarnya kasih sayang
Allah kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri.
Nilai-nilai tersebut juga memiliki dampak
luas dalam kehidupan sehari-hari. Melalui Lensa Pedagogi, momentum Muharram
menjadi sarana pendidikan karakter bagi keluarga dan sekolah untuk menanamkan
nilai kejujuran, tanggung jawab, serta keberanian mengakui kesalahan. Profil
Pelajar Pancasila menempatkan dimensi Berakhlak Mulia sebagai fondasi
pembentukan karakter peserta didik. Sementara itu, melalui Lensa Ekologi, puasa
mengajarkan hidup sederhana, menghindari pemborosan (israf), dan
menggunakan nikmat Allah secara bijaksana. Kesadaran spiritual yang tumbuh
melalui ibadah tidak hanya memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi
juga mendorong kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Pada akhirnya, Tasu'a dan 'Asyura
mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, tetapi juga
tidak ada pintu ampunan yang tertutup bagi mereka yang ingin kembali kepada
Allah. Tahun baru Hijriah bukan sekadar penanda bertambahnya usia, melainkan
kesempatan untuk memulai kehidupan dengan hati yang lebih bersih, niat yang
lebih lurus, dan semangat memperbaiki diri. Karena itu, pertanyaan yang patut
kita renungkan bukanlah, "Seberapa banyak dosa yang pernah saya
lakukan?", melainkan, "Sudahkah saya benar-benar merindukan
ampunan Allah dan berusaha kembali kepada-Nya?"
Namun, keimanan
tidak berhenti pada ibadah yang bersifat pribadi. Keimanan juga tercermin dalam
kepedulian yang terus hidup terhadap sesama, terutama ketika mereka sedang
tertimpa musibah. Mengapa perhatian masyarakat begitu besar saat bencana baru
terjadi, tetapi perlahan menghilang ketika sorotan media mereda? Itulah yang
akan kita renungkan pada artikel berikutnya, "Bencana Berlalu, Apakah
Peduli Kita Juga Ikut Pudar?"
Sumber:
Al-Qur'an al-Karim, QS.
Az-Zumar (39): 53. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/39?from=53&to=53
Imam Muslim. (w. 261
H). Shahih Muslim, Kitab as-Siyam, No. 1162 & 1134. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Lee, S., & Kim, J.
(2025). Religious Rituals, Repentance, and Mental Health Outcomes: A
Longitudinal Study. Psychology of Religion and Spirituality, 17(2),
112–128. https://doi.org/10.1037/rel0000567
Chen, L., et al.
(2024). Intermittent Fasting and Self-Regulation: Psychological Mechanisms
and Behavioral Changes. Frontiers in Psychology, 15, 1234567. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1234567
Smith, A., &
Thompson, R. (2024). Spiritual Awareness and Sustainable Consumption
Patterns. Sustainability, 16(8), 3456. https://doi.org/10.3390/su16083456
Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi,
Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka.
Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id
Al-Ghazali, I. (1996).
Ihya' 'Ulum ad-Din. Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi.
World Health Organization. (2024). Mental Health and Spiritual Well-being: Global Perspectives. Geneva. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-and-spirituality

Posting Komentar