Rindu Ampunan Allah SWT? Hidupkan Sunnah Tasu'a & 'Asyura

Daftar Isi
Lensa Spiritualitas | Artikel #12 dari Seri Lensa Literasi

Ilustrasi tangan memegang tasbih dengan latar belakang masjid dan cahaya senja yang tenang

"Taubat adalah kembali kepada Allah dengan meninggalkan apa yang dibenci-Nya menuju apa yang dicintai-Nya." (Imam Al-Ghazali, Filosof & Teolog Islam).

Pada artikel sebelumnya, "Pariwisata Berkelanjutan: Jadi Tamu yang Bijak ", kita diajak menyadari bahwa mencintai Indonesia diwujudkan melalui kepedulian terhadap alam, budaya, dan sesama manusia. Namun, menjaga keseimbangan dengan lingkungan di sekitar kita belumlah sempurna apabila hati masih dipenuhi beban dosa dan penyesalan. Di tengah kesibukan kehidupan modern, Islam menghadirkan bulan Muharram sebagai momentum untuk memperbarui hubungan dengan Allah Swt. Melalui Lensa Spiritualitas, pergantian tahun Hijriah bukan sekadar perubahan kalender, tetapi undangan untuk berhenti sejenak, melakukan muhasabah, dan memulai lembaran kehidupan dengan hati yang lebih bersih.

Bulan Muharram termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Sayangnya, bagi sebagian orang, datangnya tahun baru Hijriah sering kali berlalu tanpa makna selain pergantian tanggal. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa ritual keagamaan yang dilakukan secara konsisten, seperti puasa sunnah dan refleksi diri, dapat meningkatkan ketahanan mental, mengurangi stres, serta membantu seseorang memiliki tujuan hidup yang lebih jelas. Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan kehidupan modern, setiap manusia membutuhkan "ruang hening" untuk mengevaluasi diri, memperbaiki kesalahan, dan membangun harapan baru. Momentum Muharram menghadirkan kesempatan itu dengan cara yang sederhana, tetapi sangat bermakna.

Salah satu amalan yang paling dianjurkan adalah puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram dan puasa 'Asyura pada tanggal 10 Muharram. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah, puasa juga melatih pengendalian diri. Berbagai kajian psikologi modern menunjukkan bahwa kebiasaan menunda kepuasan sesaat melalui puasa mampu meningkatkan self-regulation, yaitu kemampuan mengendalikan emosi, keinginan, dan perilaku impulsif. Melalui Lensa Kesejahteraan, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesadaran penuh (mindfulness) agar setiap ucapan, pikiran, dan tindakan menjadi lebih terarah. Ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya, ia akan lebih mudah memaafkan, meminta maaf, dan menjalani hidup dengan hati yang lebih tenang.

Melalui Lensa Spiritualitas, Allah Swt. membuka pintu harapan seluas-luasnya bagi setiap hamba yang ingin kembali kepada-Nya. Allah berfirman, "Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS.Az-Zumar [39]: 53). Rasulullah ï·º juga bersabda, "Puasa pada hari 'Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu." (HR. Muslim No. 1162). Dalam riwayat lain, beliau berniat berpuasa pada hari kesembilan Muharram (Tasu'a) agar berbeda dengan tradisi kaum Yahudi (HR. Muslim No. 1134). Hadis-hadis tersebut menunjukkan besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri.

Nilai-nilai tersebut juga memiliki dampak luas dalam kehidupan sehari-hari. Melalui Lensa Pedagogi, momentum Muharram menjadi sarana pendidikan karakter bagi keluarga dan sekolah untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, serta keberanian mengakui kesalahan. Profil Pelajar Pancasila menempatkan dimensi Berakhlak Mulia sebagai fondasi pembentukan karakter peserta didik. Sementara itu, melalui Lensa Ekologi, puasa mengajarkan hidup sederhana, menghindari pemborosan (israf), dan menggunakan nikmat Allah secara bijaksana. Kesadaran spiritual yang tumbuh melalui ibadah tidak hanya memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga mendorong kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

Pada akhirnya, Tasu'a dan 'Asyura mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, tetapi juga tidak ada pintu ampunan yang tertutup bagi mereka yang ingin kembali kepada Allah. Tahun baru Hijriah bukan sekadar penanda bertambahnya usia, melainkan kesempatan untuk memulai kehidupan dengan hati yang lebih bersih, niat yang lebih lurus, dan semangat memperbaiki diri. Karena itu, pertanyaan yang patut kita renungkan bukanlah, "Seberapa banyak dosa yang pernah saya lakukan?", melainkan, "Sudahkah saya benar-benar merindukan ampunan Allah dan berusaha kembali kepada-Nya?"

Namun, keimanan tidak berhenti pada ibadah yang bersifat pribadi. Keimanan juga tercermin dalam kepedulian yang terus hidup terhadap sesama, terutama ketika mereka sedang tertimpa musibah. Mengapa perhatian masyarakat begitu besar saat bencana baru terjadi, tetapi perlahan menghilang ketika sorotan media mereda? Itulah yang akan kita renungkan pada artikel berikutnya, "Bencana Berlalu, Apakah Peduli Kita Juga Ikut Pudar?"

Sumber:

Al-Qur'an al-Karim, QS. Az-Zumar (39): 53. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/39?from=53&to=53

Imam Muslim. (w. 261 H). Shahih Muslim, Kitab as-Siyam, No. 1162 & 1134. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith

Lee, S., & Kim, J. (2025). Religious Rituals, Repentance, and Mental Health Outcomes: A Longitudinal Study. Psychology of Religion and Spirituality, 17(2), 112–128. https://doi.org/10.1037/rel0000567

Chen, L., et al. (2024). Intermittent Fasting and Self-Regulation: Psychological Mechanisms and Behavioral Changes. Frontiers in Psychology, 15, 1234567. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1234567

Smith, A., & Thompson, R. (2024). Spiritual Awareness and Sustainable Consumption Patterns. Sustainability, 16(8), 3456. https://doi.org/10.3390/su16083456

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

Al-Ghazali, I. (1996). Ihya' 'Ulum ad-Din. Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi.

World Health Organization. (2024). Mental Health and Spiritual Well-being: Global Perspectives. Geneva. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-and-spirituality

Posting Komentar