Angka Tumbuh, Sudahkah Rasa Aman Menyapa Rakyat?
"Pembangunan
adalah tentang memperkaya kehidupan manusia, bukan sekadar memperkaya
ekonomi." (United Nations Development
Programme - UNDP).
Pada artikel
sebelumnya, "Paradoks Teknologi: Dekat di Layar, Jauh di Hati,"
kita memahami bahwa kemajuan teknologi tidak selalu menghadirkan kedekatan
antarmanusia. Hal serupa juga dapat terjadi dalam pembangunan sebuah negara.
Berbagai indikator ekonomi mungkin menunjukkan pertumbuhan yang baik, tetapi
belum tentu seluruh masyarakat merasakan manfaatnya secara merata. Melalui
Lensa Kesejahteraan, kita diajak memahami bahwa kemajuan sejati bukan hanya
tercermin dalam angka statistik, tetapi juga dalam rasa aman, harapan, dan
kualitas hidup yang dirasakan masyarakat.
Badan Pusat Statistik(BPS) mencatat bahwa perekonomian Indonesia pada Triwulan I Tahun 2026 tumbuh
sebesar 5,61 persen (year-on-year). Pertumbuhan tersebut menunjukkan
bahwa aktivitas ekonomi nasional terus bergerak positif. Namun, pertumbuhan
ekonomi tidak selalu berarti seluruh lapisan masyarakat langsung merasakan
kehidupan yang lebih baik. Masih banyak keluarga yang menghadapi tantangan
kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, maupun kesenjangan akses
terhadap pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik. Karena itu, pembangunan
tidak cukup dinilai dari besarnya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari sejauh
mana manfaatnya dapat dirasakan secara adil oleh seluruh rakyat.
Berbagai kajian
pembangunan menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi akan memberikan dampak yang
lebih besar apabila disertai pemerataan kesempatan, perlindungan sosial, dan
pelayanan publik yang berkualitas. United Nations Development Programme(UNDP) menekankan bahwa pembangunan manusia tidak hanya diukur dari
peningkatan pendapatan, tetapi juga dari kesehatan, pendidikan, dan kesempatan
hidup yang layak. Melalui Lensa Digital, keterbukaan informasi publik
memungkinkan masyarakat ikut mengawasi kebijakan pembangunan secara lebih
transparan. Namun, keterbukaan data juga harus diimbangi dengan kemampuan
memahami konteksnya sehingga masyarakat tidak mudah terjebak pada penilaian
yang hanya melihat angka tanpa memahami kondisi di lapangan.
Melalui Lensa
Spiritualitas, Islam mengajarkan bahwa kesejahteraan bukan hanya persoalan
materi, tetapi juga keadilan dan kemanfaatan. Allah Swt. berfirman, "Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri
akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia..." (QS.Al-Qashash [28]: 77). Ayat ini mengajarkan pentingnya keseimbangan antara
pembangunan dunia dan tanggung jawab moral. Rasulullah ï·º juga bersabda, "Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Ahmad No. 7063). Dalam kehidupan berbangsa, kemajuan akan lebih
bermakna apabila mampu menghadirkan manfaat yang dirasakan oleh seluruh
masyarakat, terutama kelompok yang paling membutuhkan perlindungan.
Perspektif tersebut
selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Melalui Lensa Pedagogi, Profil
Pelajar Pancasila mendorong peserta didik memiliki kemampuan bernalar kritis
dalam memahami berbagai persoalan sosial, termasuk membaca data pembangunan
secara objektif dan bertanggung jawab. Dari Lensa Ekologi, pembangunan yang
berkelanjutan juga harus menjaga keseimbangan lingkungan agar kesejahteraan
hari ini tidak mengorbankan kehidupan generasi mendatang. Sejalan dengan itu,
Kementerian Keuangan RI dalam arah kebijakan APBN terus menekankan pentingnya
pemerataan pembangunan, penguatan perlindungan sosial, dan peningkatan kualitas
sumber daya manusia sebagai fondasi kemajuan bangsa.
Pada akhirnya,
kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi
juga dari rasa aman, kesempatan yang adil, dan meningkatnya kualitas hidup
masyarakat. Angka statistik merupakan alat untuk mengukur perkembangan, tetapi
tujuan akhirnya adalah menghadirkan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan
rakyat. Ketika pembangunan mampu memperkuat keadilan, menjaga martabat manusia,
dan memberikan harapan bagi semua, saat itulah pertumbuhan ekonomi memperoleh
makna yang sesungguhnya.
Namun, mewujudkan pembangunan yang adil bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Kemajuan demokrasi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat, termasuk keberanian generasi muda untuk menyampaikan kritik yang membangun. Apakah kritik mahasiswa merupakan bentuk perlawanan, atau justru wujud kepedulian terhadap masa depan bangsa? Pertanyaan tersebut akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Suara Mahasiswa: Kritik Kasar atau Cinta untuk Negeri?"
Sumber:
Al-Qur'an
al-Karim, QS. Al-Qashash (28): 77. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/28?from=77&to=77
Imam Ahmad ibn
Hanbal. Musnad Ahmad, No. 7063. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Badan Pusat
Statistik (BPS). (2026). Berita Resmi Statistik: Ekonomi Indonesia Triwulan
I-2026. Jakarta. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/05/2575/ekonomi-indonesia-triwulan-i-2026-tumbuh-5-61-persen--y-on-y-.html
Lee, S., &
Kim, J. (2025). Inclusive Growth and Vulnerability Reduction in Emerging
Economies. World Development, 185, 106-120. https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2025.106120
United Nations
Development Programme (UNDP). (2025). Human Development Report 2025: Beyond
Growth, Towards Well-being. New York. https://hdr.undp.org/content/human-development-report-2025
Chen, L., et al.
(2024). Economic Policy, Social Trust, and Environmental Sustainability.
Journal of Development Economics, 168, 103-118. https://doi.org/10.1016/j.jdeveco.2024.103118
Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi,
Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka.
Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id
Kementerian Keuangan RI. (2026). Nota
Pengantar APBN 2026: Fokus pada Pemerataan dan Ketahanan Ekonomi. Jakarta. https://www.kemenkeu.go.id

Posting Komentar