Paradoks Teknologi: Dekat di Layar, Jauh di Hati

Daftar Isi

Lensa Kesejahteraan | Artikel #8 dari Seri Lensa Literasi

Ilustrasi siluet orang memegang smartphone dengan bayangan hati yang retak di latar belakang

"Kita berharap lebih banyak dari teknologi dan lebih sedikit dari satu sama lain." (Sherry Turkle, Psikolog MIT & Penulis Alone Together).

Pada artikel sebelumnya, "Hoaks dan Empati: Menjaga Kemanusiaan di Kolom Komentar," kita belajar bahwa kecakapan digital harus disertai empati dan akhlak agar ruang maya tetap menjadi tempat yang sehat untuk berinteraksi. Namun, ada kenyataan yang menarik untuk direnungkan. Di tengah kemudahan berkomunikasi melalui berbagai aplikasi, banyak orang justru merasa semakin kesepian. Melalui Lensa Kesejahteraan, kita diajak memahami bahwa banyaknya koneksi digital tidak selalu berarti kuatnya hubungan antarmanusia.

Kemajuan teknologi telah memudahkan manusia terhubung tanpa batas ruang dan waktu. Namun, U.S. Surgeon General's Advisory (2023) mengingatkan bahwa kesepian dan isolasi sosial telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius karena berdampak pada kesehatan fisik maupun mental. Berbagai survei mengenai kesejahteraan digital juga menunjukkan bahwa sebagian generasi muda lebih nyaman berbagi cerita melalui media sosial atau layanan digital dibandingkan berbicara langsung dengan keluarga dan orang terdekat. Kondisi ini menunjukkan bahwa teknologi mampu mempercepat komunikasi, tetapi belum tentu mampu menghadirkan kedekatan emosional.

Berbagai penelitian psikologi menjelaskan bahwa komunikasi melalui layar kehilangan banyak unsur penting, seperti ekspresi wajah, bahasa tubuh, intonasi suara, dan sentuhan yang menjadi dasar terbentuknya rasa percaya. Penggunaan media sosial secara pasif, seperti kebiasaan terus-menerus menggulir konten tanpa interaksi yang bermakna, juga dikaitkan dengan meningkatnya rasa kesepian dan menurunnya kesejahteraan psikologis. Sebaliknya, percakapan yang mendalam, saling mendengarkan, dan kehadiran secara utuh terbukti memperkuat hubungan sosial. Melalui Lensa Digital, literasi digital tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan menempatkan teknologi sebagai sarana mempererat hubungan, bukan menggantikannya. Jumlah teman, pengikut, atau tanda suka tidak dapat menggantikan kualitas sebuah pertemanan yang dibangun dengan perhatian dan kepedulian.

Melalui Lensa Spiritualitas, Islam menempatkan persaudaraan sebagai fondasi kehidupan. Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat [49]: 10). Ayat ini mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia harus dipelihara dengan kasih sayang, kepedulian, dan kehadiran yang nyata. Rasulullah ï·º juga mengajarkan pentingnya memberikan perhatian penuh kepada orang lain ketika berinteraksi. Dalam kehidupan sehari-hari, menyimpan telepon genggam saat berbicara dengan keluarga, sahabat, atau rekan kerja merupakan bentuk penghormatan yang sederhana, tetapi sangat bermakna. Kehadiran yang utuh sering kali lebih berharga daripada sekadar mengirimkan banyak pesan singkat.

Perspektif tersebut selaras dengan pembangunan karakter dan kehidupan sosial. Melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila menempatkan dimensi Bergotong Royong sebagai kemampuan membangun hubungan yang saling menghargai dan bekerja sama. Berbagai program pendidikan juga mulai mendorong interaksi langsung antarpeserta didik agar kemampuan sosial tidak tergeser oleh ketergantungan terhadap gawai. Dari Lensa Ekologi, hubungan antarmanusia dapat diibaratkan seperti sebuah ekosistem yang sehat. Semakin banyak interaksi yang hangat, saling mendukung, dan penuh kepercayaan, semakin kuat pula ketahanan sosial masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan.

Pada akhirnya, teknologi adalah alat yang mempermudah komunikasi, tetapi manusialah yang menentukan kualitas hubungan yang terjalin. Kehadiran, perhatian, dan kepedulian tidak dapat digantikan oleh kecanggihan aplikasi apa pun. Karena itu, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah, "Berapa banyak orang yang terhubung dengan saya?", melainkan, "Sudahkah saya benar-benar hadir bagi orang-orang yang saya cintai?" Ketika teknologi digunakan untuk mempererat silaturahmi, memperkuat empati, dan menghadirkan kebersamaan, barulah kemajuan digital benar-benar membawa manfaat bagi kehidupan.

Namun, paradoks ini tidak hanya terjadi dalam hubungan antarindividu. Di tingkat yang lebih luas, kita sering melihat berbagai indikator pembangunan terus meningkat, sementara sebagian masyarakat masih merasa belum hidup dengan tenang dan sejahtera. Apakah kemajuan benar-benar cukup diukur melalui angka? Pertanyaan tersebut akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Angka Tumbuh, Sudahkah Rasa Aman Menyapa Rakyat?"

Sumber:

Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-Hujurat (49): 10. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/49?from=10&to=10
Al-Thabrani. (w. 340 H). Al-Mu'jam al-Kabir, No. 765. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Turkle, S. (2011). Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. Basic Books. 
Lee, A., & Thompson, R. (2025). Passive Social Media Use and Subjective Well-being: The Mediating Role of Social Comparison. Current Opinion in Psychology, 63, 101-115. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2025.101115
U.S. Department of Health and Human Services. (2023). Our Epidemic of Loneliness and Isolation: The U.S. Surgeon General's Advisory. Washington, DC.  https://www.hhs.gov/sites/default/files/surgeon-general-social-connection-advisory.pdf
Chen, L., et al. (2024). Face-to-Face Interaction and Social Resilience in Post-Pandemic Communities. Journal of Social and Personal Relationships, 41(5), 890-912. https://doi.org/10.1177/0265407524123456
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id
World Health Organization. (2024). Social Connection as a Public Health Priority: Global Framework for Action. Geneva. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/social-connection-and-health

Posting Komentar