Hoaks dan Empati: Menjaga Kemanusiaan di Kolom Komentar
"Kata-kata
memiliki energi. Kata-kata dengan sugesti memiliki kekuatan lebih." (Deepak Chopra, Penulis & Pemikir Spiritual).
Pada artikel sebelumnya, "Bisa
Pakai Gadget, Tapi Sudah Melek Digital Belum?", kita memahami bahwa
literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan teknologi, tetapi juga
mampu memilah informasi secara kritis. Namun, mengetahui mana yang benar saja
belum cukup. Di ruang digital, tantangan berikutnya adalah menjaga sikap dan
empati ketika berinteraksi dengan orang lain. Mengapa kolom komentar sering
berubah menjadi ruang pertengkaran? Melalui Lensa Digital, kita diajak
menyadari bahwa kualitas komunikasi di dunia maya ditentukan bukan hanya oleh
kecerdasan berpikir, tetapi juga oleh kedewasaan dalam mengelola emosi.
Penelitian Vosoughi, Roy, dan Aral(2018) yang diterbitkan dalam Science menunjukkan bahwa berita palsu
menyebar jauh lebih cepat dibandingkan berita yang benar karena lebih mampu
membangkitkan emosi, seperti marah, takut, dan terkejut. Kondisi ini membuat
ruang digital semakin mudah dipenuhi prasangka, ujaran kebencian, dan konflik.
Berbagai penelitian psikologi juga menjelaskan bahwa komunikasi melalui layar
mengurangi isyarat sosial, seperti ekspresi wajah dan nada suara, sehingga
seseorang lebih mudah menulis kata-kata yang tidak akan diucapkan secara
langsung. Fenomena ini dikenal sebagai online disinhibition effect,
yaitu kecenderungan seseorang menjadi lebih impulsif ketika berinteraksi di
dunia maya. Akibatnya, perbedaan pendapat sering berubah menjadi serangan
pribadi yang merusak hubungan sosial.
Literasi digital yang baik tidak hanya
mengajarkan cara memverifikasi informasi, tetapi juga melatih kemampuan
mengendalikan diri sebelum memberikan komentar atau membagikan sebuah unggahan.
Setiap tulisan yang kita kirim akan meninggalkan jejak digital yang dapat
memengaruhi orang lain. Karena itu, warga digital yang baik tidak hanya
bertanya, "Apakah informasi ini benar?", tetapi juga "Apakah
cara saya menyampaikannya membawa manfaat?" Kemampuan mengelola emosi,
menghargai perbedaan, dan berdialog secara santun merupakan bagian penting dari
kecakapan digital di era media sosial.
Melalui Lensa Spiritualitas, Islam telah
memberikan pedoman yang sangat jelas mengenai etika berkomunikasi. Allah Swt.
berfirman, "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka
mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan
perselisihan di antara mereka." (QS. Al-Isra' [17]: 53).
Rasulullah ï·º juga
bersabda, "Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya
selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari No. 10). Di era
digital, lisan tidak lagi hanya berupa ucapan, tetapi juga tulisan, komentar,
unggahan, maupun pesan yang kita kirimkan. Menahan diri dari menyebarkan hoaks,
tidak menghina orang lain, dan memilih kata-kata yang santun merupakan bentuk
nyata menjaga kehormatan sesama manusia.
Perspektif tersebut selaras dengan
pembangunan karakter di era digital. Melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar
Pancasila menempatkan dimensi Berakhlak Mulia sebagai landasan dalam
berinteraksi dengan sesama. Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital
RI terus mendorong penguatan etika digital sebagai bagian dari Gerakan Nasional
Literasi Digital. Dari Lensa Ekologi, ruang digital dapat diibaratkan sebagai
sebuah ekosistem. Jika setiap orang menyebarkan kebencian dan informasi yang
menyesatkan, ekosistem tersebut akan menjadi tidak sehat. Sebaliknya,
komunikasi yang jujur, santun, dan penuh empati akan menciptakan ruang digital
yang aman, nyaman, dan bermanfaat bagi semua.
Pada akhirnya, menjaga kemanusiaan di
kolom komentar merupakan bagian dari tanggung jawab setiap pengguna teknologi.
Kecerdasan digital akan kehilangan makna apabila tidak disertai akhlak yang
baik. Sebelum menulis atau membagikan sesuatu, ada baiknya kita bertanya kepada
diri sendiri, "Apakah tulisan ini akan mempererat persaudaraan atau justru
memperbesar perpecahan?" Ketika kecerdasan berpikir dipadukan dengan
empati dan akhlak mulia, teknologi tidak lagi menjadi sumber konflik, tetapi
menjadi sarana membangun masyarakat yang lebih beradab.
Namun, menjaga etika komunikasi ternyata
belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan hubungan manusia di era digital.
Meskipun kita terhubung dengan ribuan orang melalui media sosial, mengapa
banyak orang justru merasa semakin kesepian? Pertanyaan inilah yang akan kita
bahas pada artikel berikutnya, "Paradoks Teknologi: Dekat di Layar,
Jauh di Hati."
Sumber:
Al-Qur'an al-Karim, QS.
Al-Isra' (17): 53. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/17?from=53&to=53
Al-Bukhari. (w. 256
H). Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, No. 10. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Vosoughi, S., Roy, D.,
& Aral, S. (2018). The Spread of True and False News Online. Science,
359(6380), 1146–1151. https://doi.org/10.1126/science.aap9559
Lee, A., &
Thompson, R. (2025). Disinformation Exposure and the Erosion of Cognitive
Empathy in Digital Spaces. Nature Human Behaviour, 9, 412–425. https://doi.org/10.1038/s41562-024-02156-z
Chen, L., et al.
(2024). Online Harassment, Empathy Decline, and Mental Health Outcomes Among
Adolescents. Journal of Adolescent Health, 74(3), 450–462. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2024.01.005
Kementerian Komunikasi
dan Digital RI. (2024). Laporan Tahunan Penanganan Konten Negatif dan Indeks
Kepercayaan Publik. Jakarta. https://kominfo.go.id
Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi,
Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka.
Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

Posting Komentar