Hoaks dan Empati: Menjaga Kemanusiaan di Kolom Komentar

Daftar Isi

Lensa Spiritualitas | Artikel #7 dari Seri Lensa Literasi

Ilustrasi dua tangan saling berjabat di atas keyboard laptop dengan latar belakang ikon chat bubble positif

"Kata-kata memiliki energi. Kata-kata dengan sugesti memiliki kekuatan lebih." (Deepak Chopra, Penulis & Pemikir Spiritual).

Pada artikel sebelumnya, "Bisa Pakai Gadget, Tapi Sudah Melek Digital Belum?", kita memahami bahwa literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memilah informasi secara kritis. Namun, mengetahui mana yang benar saja belum cukup. Di ruang digital, tantangan berikutnya adalah menjaga sikap dan empati ketika berinteraksi dengan orang lain. Mengapa kolom komentar sering berubah menjadi ruang pertengkaran? Melalui Lensa Digital, kita diajak menyadari bahwa kualitas komunikasi di dunia maya ditentukan bukan hanya oleh kecerdasan berpikir, tetapi juga oleh kedewasaan dalam mengelola emosi.

Penelitian Vosoughi, Roy, dan Aral(2018) yang diterbitkan dalam Science menunjukkan bahwa berita palsu menyebar jauh lebih cepat dibandingkan berita yang benar karena lebih mampu membangkitkan emosi, seperti marah, takut, dan terkejut. Kondisi ini membuat ruang digital semakin mudah dipenuhi prasangka, ujaran kebencian, dan konflik. Berbagai penelitian psikologi juga menjelaskan bahwa komunikasi melalui layar mengurangi isyarat sosial, seperti ekspresi wajah dan nada suara, sehingga seseorang lebih mudah menulis kata-kata yang tidak akan diucapkan secara langsung. Fenomena ini dikenal sebagai online disinhibition effect, yaitu kecenderungan seseorang menjadi lebih impulsif ketika berinteraksi di dunia maya. Akibatnya, perbedaan pendapat sering berubah menjadi serangan pribadi yang merusak hubungan sosial.

Literasi digital yang baik tidak hanya mengajarkan cara memverifikasi informasi, tetapi juga melatih kemampuan mengendalikan diri sebelum memberikan komentar atau membagikan sebuah unggahan. Setiap tulisan yang kita kirim akan meninggalkan jejak digital yang dapat memengaruhi orang lain. Karena itu, warga digital yang baik tidak hanya bertanya, "Apakah informasi ini benar?", tetapi juga "Apakah cara saya menyampaikannya membawa manfaat?" Kemampuan mengelola emosi, menghargai perbedaan, dan berdialog secara santun merupakan bagian penting dari kecakapan digital di era media sosial.

Melalui Lensa Spiritualitas, Islam telah memberikan pedoman yang sangat jelas mengenai etika berkomunikasi. Allah Swt. berfirman, "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (QS. Al-Isra' [17]: 53). Rasulullah ï·º juga bersabda, "Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari No. 10). Di era digital, lisan tidak lagi hanya berupa ucapan, tetapi juga tulisan, komentar, unggahan, maupun pesan yang kita kirimkan. Menahan diri dari menyebarkan hoaks, tidak menghina orang lain, dan memilih kata-kata yang santun merupakan bentuk nyata menjaga kehormatan sesama manusia.

Perspektif tersebut selaras dengan pembangunan karakter di era digital. Melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila menempatkan dimensi Berakhlak Mulia sebagai landasan dalam berinteraksi dengan sesama. Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital RI terus mendorong penguatan etika digital sebagai bagian dari Gerakan Nasional Literasi Digital. Dari Lensa Ekologi, ruang digital dapat diibaratkan sebagai sebuah ekosistem. Jika setiap orang menyebarkan kebencian dan informasi yang menyesatkan, ekosistem tersebut akan menjadi tidak sehat. Sebaliknya, komunikasi yang jujur, santun, dan penuh empati akan menciptakan ruang digital yang aman, nyaman, dan bermanfaat bagi semua.

Pada akhirnya, menjaga kemanusiaan di kolom komentar merupakan bagian dari tanggung jawab setiap pengguna teknologi. Kecerdasan digital akan kehilangan makna apabila tidak disertai akhlak yang baik. Sebelum menulis atau membagikan sesuatu, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri, "Apakah tulisan ini akan mempererat persaudaraan atau justru memperbesar perpecahan?" Ketika kecerdasan berpikir dipadukan dengan empati dan akhlak mulia, teknologi tidak lagi menjadi sumber konflik, tetapi menjadi sarana membangun masyarakat yang lebih beradab.

Namun, menjaga etika komunikasi ternyata belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan hubungan manusia di era digital. Meskipun kita terhubung dengan ribuan orang melalui media sosial, mengapa banyak orang justru merasa semakin kesepian? Pertanyaan inilah yang akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Paradoks Teknologi: Dekat di Layar, Jauh di Hati."

Sumber:


Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-Isra' (17): 53. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/17?from=53&to=53

Al-Bukhari. (w. 256 H). Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, No. 10. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith

Vosoughi, S., Roy, D., & Aral, S. (2018). The Spread of True and False News Online. Science, 359(6380), 1146–1151. https://doi.org/10.1126/science.aap9559

Lee, A., & Thompson, R. (2025). Disinformation Exposure and the Erosion of Cognitive Empathy in Digital Spaces. Nature Human Behaviour, 9, 412–425. https://doi.org/10.1038/s41562-024-02156-z

Chen, L., et al. (2024). Online Harassment, Empathy Decline, and Mental Health Outcomes Among Adolescents. Journal of Adolescent Health, 74(3), 450–462.  https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2024.01.005

Kementerian Komunikasi dan Digital RI. (2024). Laporan Tahunan Penanganan Konten Negatif dan Indeks Kepercayaan Publik. Jakarta. https://kominfo.go.id

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

Suler, J. (2004). The Online Disinhibition Effect. CyberPsychology & Behavior, 7(3), 321–326. https://doi.org/10.1089/1094931041291295

Posting Komentar