Pariwisata Berkelanjutan: Jadi Tamu yang Bijak

Daftar Isi

Lensa Ekologi | Artikel #11 dari Seri Lensa Literasi

Ilustrasi wisatawan berbincang hangat dengan pengrajin lokal di pasar tradisional dengan latar belakang alam hijau

"Wisatawan sejati tidak datang untuk menaklukkan destinasi, melainkan untuk belajar darinya." (Pepatah Lokal Adaptif).

Pada artikel sebelumnya, "Suara Mahasiswa: Kritik Kasar atau Cinta untuk Negeri?", kita memahami bahwa kecintaan kepada bangsa tidak hanya diwujudkan melalui kritik yang konstruktif, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam menjaga kehidupan bersama. Semangat tersebut ternyata juga tercermin ketika kita bepergian ke berbagai daerah di Indonesia. Sebagai wisatawan, kita bukan sekadar penikmat keindahan alam dan budaya, melainkan tamu yang membawa tanggung jawab moral. Melalui Lensa Kewarganegaraan, perjalanan wisata bukan hanya aktivitas rekreasi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap tanah air, masyarakat lokal, dan warisan yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan alam dan budaya terbesar di dunia. Pemulihan sektor pariwisata yang terus meningkat menurut World Travel & Tourism Council (WTTC) 2025 menjadi kabar baik bagi perekonomian nasional. Namun, di balik pertumbuhan tersebut muncul tantangan berupa overtourism, terutama di sejumlah destinasi populer seperti Bali dan Labuan Bajo. Penumpukan wisatawan telah memicu peningkatan sampah plastik, kerusakan ekosistem laut akibat aktivitas wisata yang tidak bertanggung jawab, hingga berkurangnya keaslian budaya lokal karena tekanan komersialisasi. Kondisi ini mengingatkan bahwa keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari banyaknya kunjungan, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

Melalui Lensa Ekologi, setiap perjalanan sesungguhnya meninggalkan jejak lingkungan (carbon footprint), mulai dari penggunaan transportasi, konsumsi energi di penginapan, hingga sampah yang dihasilkan selama berwisata. UN Tourism menegaskan bahwa pariwisata berkelanjutan adalah pembangunan pariwisata yang mampu memenuhi kebutuhan wisatawan tanpa mengorbankan kebutuhan generasi mendatang. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa wisatawan yang memiliki kesadaran ekologis cenderung memilih penginapan ramah lingkungan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta lebih banyak membeli produk lokal. Kebiasaan sederhana tersebut bukan hanya membantu menjaga alam, tetapi juga memperkuat perekonomian masyarakat setempat sehingga manfaat pariwisata dapat dirasakan lebih merata.

Melalui Lensa Spiritualitas, Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah yang diberi amanah untuk memelihara bumi. Allah Swt. berfirman, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..." (QS. Ar-Rum[30]: 41). Rasulullah ï·º juga bersabda, "Sesungguhnya dunia ini hijau dan indah, dan Allah menjadikan kalian sebagai pengelolanya." (HR. Muslim No.2742). Nilai-nilai tersebut mengingatkan bahwa menjaga kebersihan destinasi wisata, tidak merusak flora dan fauna, menghormati adat istiadat masyarakat, serta menggunakan sumber daya secara bijaksana merupakan bagian dari rasa syukur kepada Allah sekaligus wujud tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi.

Nilai tersebut juga selaras dengan pembangunan karakter bangsa. Melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila mendorong lahirnya peserta didik yang berkebinekaan global, mampu menghargai budaya lain, serta membangun komunikasi yang santun dengan masyarakat yang berbeda latar belakang. Sementara itu, pemerintah melalui program Desa Wisata Berkelanjutan dan penerapan standar CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability) terus memperkuat pengelolaan destinasi yang bersih, aman, sehat, dan ramah lingkungan. Dari Lensa Kesejahteraan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa wisata berbasis komunitas justru memberikan pengalaman yang lebih bermakna dan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dibandingkan wisata yang hanya berorientasi pada kemewahan fasilitas. Hal ini membuktikan bahwa kebahagiaan dalam perjalanan lahir dari kedalaman interaksi dengan manusia, budaya, dan alam, bukan semata-mata dari banyaknya tempat yang berhasil dikunjungi.

Pada akhirnya, menjadi tamu yang bijak berarti menyadari bahwa setiap langkah kita akan meninggalkan jejak. Jejak itu dapat berupa sampah dan kerusakan, tetapi juga dapat berupa kepedulian, penghormatan, dan manfaat bagi masyarakat setempat. Karena itu, sebelum memulai perjalanan, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri, "Apakah kehadiran saya akan membuat tempat ini menjadi lebih baik atau justru sebaliknya?" Ketika kecintaan kepada Indonesia diwujudkan melalui perilaku yang bertanggung jawab, pariwisata tidak lagi sekadar menjadi aktivitas rekreasi, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar menjaga bumi pertiwi sebagai amanah yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Namun, menjaga keseimbangan dengan alam dan sesama manusia pada akhirnya berawal dari kebersihan hati. Di tengah kesibukan kehidupan modern, Islam menghadirkan momen-momen istimewa untuk memperbarui hubungan kita dengan Allah Swt. Mengapa bulan Muharram termasuk bulan yang dimuliakan? Apa hikmah di balik puasa Tasu'a dan 'Asyura yang dianjurkan Rasulullah ï·º? Itulah yang akan kita renungkan pada artikel berikutnya, "Rindu Ampunan Allah? Hidupkan Sunnah Tasu'a & 'Asyura."

Sumber:

Al-Qur'an al-Karim, QS. Ar-Rum (30): 41. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/30?from=41&to=41

Imam Muslim. (w. 261 H). Shahih Muslim, Kitab al-Zuhd wa ar-Raqa'iq, No. 2742. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith

UN Tourism. (2024). Sustainable Development Goals in Tourism: A Progress Report. Madrid. https://www.unwto.org/sustainable-development

Lee, S., & Kim, J. (2025). Ecotourism Behavior and Local Economic Multipliers in Southeast Asia. Journal of Sustainable Tourism, 33(2), 210–228. https://doi.org/10.1080/09669582.2024.2345678

Chen, L., et al. (2024). Carbon Footprint Mitigation Strategies in the Global Tourism Industry. Environmental Science & Policy, 152, 106-118. https://doi.org/10.1016/j.envsci.2024.106118

World Travel & Tourism Council (WTTC). (2025). Economic Impact Research: Indonesia 2025. London. https://wttc.org/research-and-data/economic-impact-research

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

Smith, A., & Thompson, R. (2025). Community-Based Tourism and Subjective Well-being: A Comparative Study. Tourism Management, 95, 104-119. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2025.104119

Posting Komentar