Pariwisata Berkelanjutan: Jadi Tamu yang Bijak
"Wisatawan
sejati tidak datang untuk menaklukkan destinasi, melainkan untuk belajar
darinya." (Pepatah Lokal Adaptif).
Pada artikel sebelumnya, "Suara
Mahasiswa: Kritik Kasar atau Cinta untuk Negeri?", kita memahami bahwa
kecintaan kepada bangsa tidak hanya diwujudkan melalui kritik yang konstruktif,
tetapi juga melalui tindakan nyata dalam menjaga kehidupan bersama. Semangat
tersebut ternyata juga tercermin ketika kita bepergian ke berbagai daerah di
Indonesia. Sebagai wisatawan, kita bukan sekadar penikmat keindahan alam dan
budaya, melainkan tamu yang membawa tanggung jawab moral. Melalui Lensa
Kewarganegaraan, perjalanan wisata bukan hanya aktivitas rekreasi, tetapi juga
bentuk penghormatan terhadap tanah air, masyarakat lokal, dan warisan yang akan
diwariskan kepada generasi mendatang.
Indonesia merupakan salah satu negara
dengan kekayaan alam dan budaya terbesar di dunia. Pemulihan sektor pariwisata
yang terus meningkat menurut World Travel & Tourism Council (WTTC) 2025
menjadi kabar baik bagi perekonomian nasional. Namun, di balik pertumbuhan
tersebut muncul tantangan berupa overtourism, terutama di sejumlah destinasi
populer seperti Bali dan Labuan Bajo. Penumpukan wisatawan telah memicu
peningkatan sampah plastik, kerusakan ekosistem laut akibat aktivitas wisata
yang tidak bertanggung jawab, hingga berkurangnya keaslian budaya lokal karena
tekanan komersialisasi. Kondisi ini mengingatkan bahwa keberhasilan pariwisata
tidak cukup diukur dari banyaknya kunjungan, tetapi juga dari kemampuan menjaga
keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan
kesejahteraan masyarakat.
Melalui Lensa Ekologi, setiap perjalanan
sesungguhnya meninggalkan jejak lingkungan (carbon footprint), mulai
dari penggunaan transportasi, konsumsi energi di penginapan, hingga sampah yang
dihasilkan selama berwisata. UN Tourism menegaskan bahwa pariwisata
berkelanjutan adalah pembangunan pariwisata yang mampu memenuhi kebutuhan
wisatawan tanpa mengorbankan kebutuhan generasi mendatang. Berbagai penelitian
juga menunjukkan bahwa wisatawan yang memiliki kesadaran ekologis cenderung
memilih penginapan ramah lingkungan, mengurangi penggunaan plastik sekali
pakai, serta lebih banyak membeli produk lokal. Kebiasaan sederhana tersebut
bukan hanya membantu menjaga alam, tetapi juga memperkuat perekonomian
masyarakat setempat sehingga manfaat pariwisata dapat dirasakan lebih merata.
Melalui Lensa Spiritualitas, Islam
mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah yang diberi amanah untuk memelihara
bumi. Allah Swt. berfirman, "Telah tampak kerusakan di darat dan di
laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..." (QS. Ar-Rum[30]: 41). Rasulullah ï·º juga bersabda, "Sesungguhnya dunia ini hijau dan indah,
dan Allah menjadikan kalian sebagai pengelolanya." (HR. Muslim No.2742). Nilai-nilai tersebut mengingatkan bahwa menjaga kebersihan destinasi
wisata, tidak merusak flora dan fauna, menghormati adat istiadat masyarakat,
serta menggunakan sumber daya secara bijaksana merupakan bagian dari rasa
syukur kepada Allah sekaligus wujud tanggung jawab sebagai khalifah di muka
bumi.
Nilai tersebut juga selaras dengan
pembangunan karakter bangsa. Melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila
mendorong lahirnya peserta didik yang berkebinekaan global, mampu menghargai
budaya lain, serta membangun komunikasi yang santun dengan masyarakat yang
berbeda latar belakang. Sementara itu, pemerintah melalui program Desa Wisata
Berkelanjutan dan penerapan standar CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and
Environment Sustainability) terus memperkuat pengelolaan destinasi yang
bersih, aman, sehat, dan ramah lingkungan. Dari Lensa Kesejahteraan, berbagai
penelitian menunjukkan bahwa wisata berbasis komunitas justru memberikan
pengalaman yang lebih bermakna dan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dibandingkan
wisata yang hanya berorientasi pada kemewahan fasilitas. Hal ini membuktikan
bahwa kebahagiaan dalam perjalanan lahir dari kedalaman interaksi dengan
manusia, budaya, dan alam, bukan semata-mata dari banyaknya tempat yang
berhasil dikunjungi.
Pada akhirnya, menjadi tamu yang bijak
berarti menyadari bahwa setiap langkah kita akan meninggalkan jejak. Jejak itu
dapat berupa sampah dan kerusakan, tetapi juga dapat berupa kepedulian,
penghormatan, dan manfaat bagi masyarakat setempat. Karena itu, sebelum memulai
perjalanan, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri, "Apakah
kehadiran saya akan membuat tempat ini menjadi lebih baik atau justru
sebaliknya?" Ketika kecintaan kepada Indonesia diwujudkan melalui
perilaku yang bertanggung jawab, pariwisata tidak lagi sekadar menjadi
aktivitas rekreasi, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar menjaga bumi pertiwi
sebagai amanah yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Namun, menjaga
keseimbangan dengan alam dan sesama manusia pada akhirnya berawal dari kebersihan
hati. Di tengah kesibukan kehidupan modern, Islam menghadirkan momen-momen
istimewa untuk memperbarui hubungan kita dengan Allah Swt. Mengapa bulan
Muharram termasuk bulan yang dimuliakan? Apa hikmah di balik puasa Tasu'a dan
'Asyura yang dianjurkan Rasulullah ï·º? Itulah yang akan kita renungkan pada artikel berikutnya, "Rindu
Ampunan Allah? Hidupkan Sunnah Tasu'a & 'Asyura."
Sumber:
Al-Qur'an al-Karim, QS.
Ar-Rum (30): 41. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/30?from=41&to=41
Imam Muslim. (w. 261
H). Shahih Muslim, Kitab al-Zuhd wa ar-Raqa'iq, No. 2742. Verifikasi
via: https://dorar.net/hadith
UN Tourism. (2024). Sustainable
Development Goals in Tourism: A Progress Report. Madrid. https://www.unwto.org/sustainable-development
Lee, S., & Kim, J.
(2025). Ecotourism Behavior and Local Economic Multipliers in Southeast
Asia. Journal of Sustainable Tourism, 33(2), 210–228. https://doi.org/10.1080/09669582.2024.2345678
Chen, L., et al.
(2024). Carbon Footprint Mitigation Strategies in the Global Tourism
Industry. Environmental Science & Policy, 152, 106-118. https://doi.org/10.1016/j.envsci.2024.106118
World Travel &
Tourism Council (WTTC). (2025). Economic Impact Research: Indonesia 2025.
London. https://wttc.org/research-and-data/economic-impact-research
Badan Standar, Kurikulum,
dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen,
dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id
Smith, A., & Thompson, R. (2025). Community-Based Tourism and Subjective Well-being: A Comparative Study. Tourism Management, 95, 104-119. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2025.104119

Posting Komentar