Suara Mahasiswa: Kritik Amarah atau Cinta untuk Negeri?
“The duty of
youth is to challenge corruption.” (Kurt Cobain,
Musisi & Aktivis Sosial).
Pada artikel sebelumnya, "Angka
Tumbuh, Sudahkah Rasa Aman Menyapa Rakyat?", kita memahami bahwa
kemajuan pembangunan harus dirasakan oleh seluruh masyarakat, bukan hanya terlihat
melalui angka statistik. Dalam negara demokrasi, salah satu cara memastikan
pembangunan tetap berjalan pada jalurnya adalah melalui partisipasi warga
negara, termasuk suara mahasiswa. Demonstrasi, kajian ilmiah, maupun kritik
terhadap kebijakan sering menjadi bagian dari dinamika tersebut. Melalui Lensa
Pedagogi, kita diajak memahami bahwa kritik bukan sekadar bentuk penolakan,
melainkan bagian dari proses pembelajaran demokrasi yang sehat apabila
dilakukan secara bertanggung jawab.
Sepanjang sejarah Indonesia, mahasiswa
telah berperan dalam berbagai momentum penting perubahan sosial. Hingga saat
ini, generasi muda masih menjadi kelompok yang aktif menyuarakan isu-isu
seperti pendidikan, lingkungan hidup, pemberantasan korupsi, keadilan sosial,
dan transparansi kebijakan publik. Berbagai kajian tentang partisipasi politik
generasi muda menunjukkan bahwa keterlibatan mereka umumnya didorong oleh
kepedulian terhadap masa depan bangsa. Di era digital, aspirasi tersebut
semakin mudah disampaikan melalui media sosial. Namun, kemudahan tersebut juga
membawa tantangan karena perbedaan pendapat sering berkembang menjadi
polarisasi, ujaran kebencian, atau penyebaran informasi yang tidak
terverifikasi.
Secara akademik, mahasiswa dikenal
sebagai agent of change, social control, dan iron stock bangsa.
Peran tersebut menuntut kemampuan berpikir kritis, menguji data, serta
menyampaikan argumentasi yang didasarkan pada bukti, bukan sekadar emosi.
Melalui Lensa Digital, literasi digital menjadi sangat penting agar kritik yang
disampaikan tidak terjebak pada sensasi atau sekadar mengejar perhatian di
media sosial. Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat dialog,
menyebarkan informasi yang akurat, dan membangun partisipasi masyarakat secara
konstruktif. Kritik yang baik bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan
yang mampu menawarkan solusi dan mendorong perbaikan bersama.
Melalui Lensa Spiritualitas, Islam
mengajarkan bahwa kepedulian terhadap kehidupan bersama merupakan bagian dari
tanggung jawab seorang mukmin. Allah Swt. berfirman, "Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah
[5]: 2). Rasulullah ï·º juga bersabda, "Agama adalah nasihat." (HR.Muslim No. 56). Hadis ini menunjukkan bahwa memberikan masukan,
mengingatkan, dan mengoreksi merupakan bentuk kepedulian apabila dilakukan
dengan niat yang baik, cara yang santun, dan tujuan untuk menghadirkan
kemaslahatan. Kritik yang dilandasi adab bukanlah permusuhan, melainkan wujud
cinta kepada bangsa dan tanggung jawab moral terhadap kehidupan bersama.
Pandangan tersebut selaras dengan
pembangunan karakter kewarganegaraan. Melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila mendorong peserta didik untuk bergotong royong, bernalar kritis,
serta menghargai perbedaan pendapat. Kampus menjadi ruang pembelajaran
demokrasi, tempat mahasiswa belajar menyampaikan aspirasi secara damai
sekaligus belajar mendengarkan pandangan yang berbeda. Dari Lensa Ekologi,
kepedulian mahasiswa juga semakin terlihat dalam berbagai gerakan pelestarian
lingkungan, pengelolaan sampah, perlindungan hutan, dan pembangunan
berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada bangsa tidak hanya
diwujudkan melalui kritik terhadap kebijakan, tetapi juga melalui tindakan
nyata menjaga alam dan kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, kekuatan demokrasi tidak
diukur dari sedikitnya kritik yang muncul, melainkan dari kemampuan seluruh
pihak menjadikan kritik sebagai sarana memperbaiki diri. Mahasiswa bukan lawan
pemerintah, sebagaimana pemerintah bukan lawan mahasiswa. Keduanya memiliki
tujuan yang sama, yaitu menghadirkan kehidupan berbangsa yang lebih adil,
sejahtera, dan bermartabat. Karena itu, pertanyaan yang perlu kita renungkan
bukanlah, "Seberapa keras kritik itu disampaikan?", melainkan,
"Apakah kritik tersebut lahir dari kepedulian, disampaikan dengan adab,
dan diarahkan untuk kebaikan bersama?"
Namun, tanggung
jawab mencintai bangsa tidak berhenti pada ruang diskusi atau penyampaian aspirasi.
Kecintaan terhadap Indonesia juga tercermin dari cara kita memperlakukan alam,
budaya, dan masyarakat di setiap daerah yang kita kunjungi. Bagaimana menjadi
wisatawan yang menghargai lingkungan sekaligus menghormati kearifan lokal?
Itulah yang akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Pariwisata
Berkelanjutan: Jadi Tamu yang Bijak di Bumi Pertiwi."
Sumber:
Al-Qur'an
al-Karim, QS. Al-Ma'idah (5): 2. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/5?from=2&to=2
Imam Muslim. (w.
261 H). Shahih Muslim, Kitab al-Iman, No. 56. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Lee, S., &
Kim, J. (2025). Youth Political Participation and Social Justice Advocacy in
Southeast Asia. Journal of Youth Studies, 28(3), 412–430. https://doi.org/10.1080/13676261.2024.2432071
Thompson, R.,
& Chen, L. (2025). Civic Engagement and Democratic Resilience: A
Comparative Study. Cogent Social Sciences, 11(1), 2456789. https://doi.org/10.1080/23311886.2025.2456789
Wijaya, A., et
al. (2024). Digital Activism and Ethical Communication Among Indonesian
Students. Telematics and Informatics Reports, 13, 100-115. https://doi.org/10.1016/j.teler.2024.100115
Green, P., &
Smith, A. (2024). Student Movements and Environmental Justice in Developing
Nations. Environmental Politics, 33(2), 210–228. https://doi.org/10.1080/09644016.2023.2287654
Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi,
Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka.
Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id
Kurt Cobain. (1993). Interview with Rolling
Stone. https://www.rollingstone.com/music/music-news/kurt-cobain-quotes/

Posting Komentar