Suara Mahasiswa: Kritik Amarah atau Cinta untuk Negeri?

Daftar Isi

Lensa Pedagogi | Artikel #10 dari Seri Lensa Literasi

Ilustrasi siluet mahasiswa memegang spanduk dengan latar belakang cahaya senja yang hangat

“The duty of youth is to challenge corruption.” (Kurt Cobain, Musisi & Aktivis Sosial).

Pada artikel sebelumnya, "Angka Tumbuh, Sudahkah Rasa Aman Menyapa Rakyat?", kita memahami bahwa kemajuan pembangunan harus dirasakan oleh seluruh masyarakat, bukan hanya terlihat melalui angka statistik. Dalam negara demokrasi, salah satu cara memastikan pembangunan tetap berjalan pada jalurnya adalah melalui partisipasi warga negara, termasuk suara mahasiswa. Demonstrasi, kajian ilmiah, maupun kritik terhadap kebijakan sering menjadi bagian dari dinamika tersebut. Melalui Lensa Pedagogi, kita diajak memahami bahwa kritik bukan sekadar bentuk penolakan, melainkan bagian dari proses pembelajaran demokrasi yang sehat apabila dilakukan secara bertanggung jawab.

Sepanjang sejarah Indonesia, mahasiswa telah berperan dalam berbagai momentum penting perubahan sosial. Hingga saat ini, generasi muda masih menjadi kelompok yang aktif menyuarakan isu-isu seperti pendidikan, lingkungan hidup, pemberantasan korupsi, keadilan sosial, dan transparansi kebijakan publik. Berbagai kajian tentang partisipasi politik generasi muda menunjukkan bahwa keterlibatan mereka umumnya didorong oleh kepedulian terhadap masa depan bangsa. Di era digital, aspirasi tersebut semakin mudah disampaikan melalui media sosial. Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan karena perbedaan pendapat sering berkembang menjadi polarisasi, ujaran kebencian, atau penyebaran informasi yang tidak terverifikasi.

Secara akademik, mahasiswa dikenal sebagai agent of change, social control, dan iron stock bangsa. Peran tersebut menuntut kemampuan berpikir kritis, menguji data, serta menyampaikan argumentasi yang didasarkan pada bukti, bukan sekadar emosi. Melalui Lensa Digital, literasi digital menjadi sangat penting agar kritik yang disampaikan tidak terjebak pada sensasi atau sekadar mengejar perhatian di media sosial. Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat dialog, menyebarkan informasi yang akurat, dan membangun partisipasi masyarakat secara konstruktif. Kritik yang baik bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang mampu menawarkan solusi dan mendorong perbaikan bersama.

Melalui Lensa Spiritualitas, Islam mengajarkan bahwa kepedulian terhadap kehidupan bersama merupakan bagian dari tanggung jawab seorang mukmin. Allah Swt. berfirman, "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah [5]: 2). Rasulullah ï·º juga bersabda, "Agama adalah nasihat." (HR.Muslim No. 56). Hadis ini menunjukkan bahwa memberikan masukan, mengingatkan, dan mengoreksi merupakan bentuk kepedulian apabila dilakukan dengan niat yang baik, cara yang santun, dan tujuan untuk menghadirkan kemaslahatan. Kritik yang dilandasi adab bukanlah permusuhan, melainkan wujud cinta kepada bangsa dan tanggung jawab moral terhadap kehidupan bersama.

Pandangan tersebut selaras dengan pembangunan karakter kewarganegaraan. Melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila mendorong peserta didik untuk bergotong royong, bernalar kritis, serta menghargai perbedaan pendapat. Kampus menjadi ruang pembelajaran demokrasi, tempat mahasiswa belajar menyampaikan aspirasi secara damai sekaligus belajar mendengarkan pandangan yang berbeda. Dari Lensa Ekologi, kepedulian mahasiswa juga semakin terlihat dalam berbagai gerakan pelestarian lingkungan, pengelolaan sampah, perlindungan hutan, dan pembangunan berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada bangsa tidak hanya diwujudkan melalui kritik terhadap kebijakan, tetapi juga melalui tindakan nyata menjaga alam dan kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, kekuatan demokrasi tidak diukur dari sedikitnya kritik yang muncul, melainkan dari kemampuan seluruh pihak menjadikan kritik sebagai sarana memperbaiki diri. Mahasiswa bukan lawan pemerintah, sebagaimana pemerintah bukan lawan mahasiswa. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan kehidupan berbangsa yang lebih adil, sejahtera, dan bermartabat. Karena itu, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah, "Seberapa keras kritik itu disampaikan?", melainkan, "Apakah kritik tersebut lahir dari kepedulian, disampaikan dengan adab, dan diarahkan untuk kebaikan bersama?"

Namun, tanggung jawab mencintai bangsa tidak berhenti pada ruang diskusi atau penyampaian aspirasi. Kecintaan terhadap Indonesia juga tercermin dari cara kita memperlakukan alam, budaya, dan masyarakat di setiap daerah yang kita kunjungi. Bagaimana menjadi wisatawan yang menghargai lingkungan sekaligus menghormati kearifan lokal? Itulah yang akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Pariwisata Berkelanjutan: Jadi Tamu yang Bijak di Bumi Pertiwi."

Sumber:

Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-Ma'idah (5): 2. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/5?from=2&to=2
Imam Muslim. (w. 261 H). Shahih Muslim, Kitab al-Iman, No. 56. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Lee, S., & Kim, J. (2025). Youth Political Participation and Social Justice Advocacy in Southeast Asia. Journal of Youth Studies, 28(3), 412–430. https://doi.org/10.1080/13676261.2024.2432071
Thompson, R., & Chen, L. (2025). Civic Engagement and Democratic Resilience: A Comparative Study. Cogent Social Sciences, 11(1), 2456789. https://doi.org/10.1080/23311886.2025.2456789
Wijaya, A., et al. (2024). Digital Activism and Ethical Communication Among Indonesian Students. Telematics and Informatics Reports, 13, 100-115. https://doi.org/10.1016/j.teler.2024.100115
Green, P., & Smith, A. (2024). Student Movements and Environmental Justice in Developing Nations. Environmental Politics, 33(2), 210–228. https://doi.org/10.1080/09644016.2023.2287654
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id
Kurt Cobain. (1993). Interview with Rolling Stone. https://www.rollingstone.com/music/music-news/kurt-cobain-quotes/

Posting Komentar