Bencana Berlalu, Apakah Peduli Kita Juga Ikut Pudar?

Daftar Isi

Lensa Spiritualitas | Artikel #13 dari Seri Lensa Literasi

Ilustrasi tangan saling menggenggam dengan latar belakang puing bencana yang mulai ditumbuhi tunas hijau

"The purpose of human life is to serve, and to show compassion and the will to help others" (Albert Schweitzer, Peraih Nobel Perdamaian & Filsuf).

Pada artikel sebelumnya, "Rindu Ampunan Allah? Hidupkan Sunnah Tasu'a & 'Asyura", kita memahami bahwa taubat yang tulus bukan hanya memperbaiki hubungan dengan Allah Swt., tetapi juga melahirkan kepedulian terhadap sesama manusia. Salah satu ujian terbesar dari kepedulian tersebut hadir ketika bencana melanda. Pada hari-hari pertama, bantuan, doa, dan perhatian masyarakat mengalir begitu deras. Namun, ketika pemberitaan mulai mereda dan media beralih pada isu lain, sering kali perhatian itu ikut memudar. Melalui Lensa Kemanusiaan, kita diajak bertanya, apakah empati kita hanya bertahan selama bencana menjadi berita utama, atau tetap hidup hingga para korban benar-benar mampu bangkit kembali?

Fenomena tersebut dikenal dalam psikologi sebagai compassion fatigue, yaitu kelelahan emosional akibat terus-menerus terpapar berita penderitaan. Di era media digital, siklus perhatian publik berlangsung sangat singkat. Reuters Institute Digital NewsReport (2025) menunjukkan bahwa pemberitaan mengenai bencana di media sosial umumnya hanya menjadi perhatian selama beberapa hari sebelum tergeser oleh isu lain yang lebih baru. Padahal, menurut United Nations Office forDisaster Risk Reduction (UNDRR), proses pemulihan pascabencana dapat berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Korban tidak hanya membutuhkan bantuan darurat, tetapi juga pendampingan psikologis, pemulihan ekonomi, pendidikan, dan pembangunan kembali kehidupan mereka. Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar menggerakkan empati, melainkan menjaga agar empati tersebut tetap hidup hingga masa pemulihan selesai.

Melalui Lensa Digital, kita memahami bahwa algoritma media sosial cenderung menampilkan informasi yang baru dan menarik perhatian. Akibatnya, kepedulian masyarakat sering mengikuti arus algoritma, bukan kebutuhan nyata para penyintas. Literasi digital pada akhirnya tidak hanya berarti mampu mengenali informasi yang benar, tetapi juga mampu mengelola perhatian secara bijaksana. Kepedulian tidak harus selalu diwujudkan melalui unggahan atau tagar di media sosial. Tetap mengikuti perkembangan pemulihan, mendukung lembaga kemanusiaan yang kredibel, membeli produk usaha korban bencana, atau sekadar menjaga komunikasi dengan mereka merupakan bentuk solidaritas yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar reaksi sesaat di dunia maya.

Melalui Lensa Spiritualitas, Islam mengajarkan bahwa kepedulian kepada sesama merupakan bagian dari kesempurnaan iman. Allah Swt. berfirman, "Atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat membutuhkan." (QS. Al-Balad [90]: 14–16). Rasulullah ï·º juga bersabda, "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh; apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak bisa tidur." (HR. Bukhari No. 6011). Hadis tersebut mengajarkan bahwa kepedulian bukanlah respons sesaat, melainkan ikatan persaudaraan yang terus hidup selama masih ada saudara kita yang membutuhkan pertolongan.

Pandangan tersebut sejalan dengan pembangunan karakter bangsa. Melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila menanamkan nilai bergotong royong, empati, dan kepedulian sosial sebagai bagian dari karakter peserta didik. Sementara itu, dari Lensa Ekologi, pemulihan pascabencana tidak hanya membangun kembali rumah dan jalan yang rusak, tetapi juga memperbaiki hubungan manusia dengan lingkungan agar risiko bencana di masa depan dapat diminimalkan. Berbagai program rehabilitasi berbasis masyarakat menunjukkan bahwa keterlibatan warga secara berkelanjutan mampu memperkuat ketahanan sosial sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat terdampak.

Pada akhirnya, kepedulian yang sejati tidak bergantung pada sorotan kamera atau ramainya media sosial. Nilai kemanusiaan justru terlihat ketika kita tetap hadir meskipun dunia telah mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Karena itu, pertanyaan yang layak kita renungkan bukanlah, "Apakah bencana ini masih menjadi pembicaraan?", melainkan, "Apakah saudara-saudara kita yang menjadi korban sudah benar-benar mampu bangkit?" Selama jawabannya belum, maka kepedulian kita pun seharusnya belum berakhir.

Namun, kepedulian yang berkelanjutan tidak mungkin tumbuh apabila setiap orang berjalan sendiri-sendiri. Dibutuhkan rasa saling percaya, gotong royong, dan ikatan sosial yang mampu menyatukan berbagai perbedaan. Bagaimana membangun masyarakat yang tetap kuat meskipun berbeda suku, agama, budaya, maupun pandangan? Itulah yang akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Komunitas Kuat: Merajut Ikatan di Tengah Perbedaan."

Sumber:

Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-Balad (90): 14–16. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/90?from=14&to=16

Al-Bukhari. (w. 256 H). Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, No. 6011. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith

Figley, C. R. (1995). Compassion Fatigue: Coping with Secondary Traumatic Stress Disorder in Those Who Treat the Traumatized. Brunner/Mazel.

United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR). (2024). Global Assessment Report on Disaster Risk Reduction 2024. Geneva. https://www.undrr.org/publication/global-assessment-report-disaster-risk-reduction-2024

Lee, S., & Kim, J. (2025). Algorithmic Compassion Fatigue: Media Exposure and Emotional Numbing in Digital Disaster Response. Journal of Computer-Mediated Communication, 30(2), zmad045. https://doi.org/10.1093/jcmc/zmad045

World Bank. (2024). Building Back Better: Long-Term Recovery and Resilience in Post-Disaster Indonesia. Washington, DC. https://documents.worldbank.org/en/publication/documents-reports/documentdetail/0997353/030724/P1789250d1177f30ab0a6c8e5b3f3c8d9e2

Reuters Institute. (2025). Digital News Report 2025: Attention Cycles and Disaster Coverage. Oxford. https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/digital-news-report/2025

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

Kementerian Sosial RI. (2025). Pedoman Program Kampung Siaga Bencana dan Solidaritas Berkelanjutan. Jakarta. https://kemensos.go.id

Posting Komentar