Bencana Berlalu, Apakah Peduli Kita Juga Ikut Pudar?
"The purpose
of human life is to serve, and to show compassion and the will to help
others" (Albert Schweitzer, Peraih Nobel
Perdamaian & Filsuf).
Pada artikel sebelumnya, "Rindu
Ampunan Allah? Hidupkan Sunnah Tasu'a & 'Asyura", kita memahami
bahwa taubat yang tulus bukan hanya memperbaiki hubungan dengan Allah Swt.,
tetapi juga melahirkan kepedulian terhadap sesama manusia. Salah satu ujian
terbesar dari kepedulian tersebut hadir ketika bencana melanda. Pada hari-hari
pertama, bantuan, doa, dan perhatian masyarakat mengalir begitu deras. Namun,
ketika pemberitaan mulai mereda dan media beralih pada isu lain, sering kali
perhatian itu ikut memudar. Melalui Lensa Kemanusiaan, kita diajak bertanya,
apakah empati kita hanya bertahan selama bencana menjadi berita utama, atau
tetap hidup hingga para korban benar-benar mampu bangkit kembali?
Fenomena tersebut dikenal dalam psikologi
sebagai compassion fatigue, yaitu kelelahan emosional akibat
terus-menerus terpapar berita penderitaan. Di era media digital, siklus
perhatian publik berlangsung sangat singkat. Reuters Institute Digital NewsReport (2025) menunjukkan bahwa pemberitaan mengenai bencana di media
sosial umumnya hanya menjadi perhatian selama beberapa hari sebelum tergeser
oleh isu lain yang lebih baru. Padahal, menurut United Nations Office forDisaster Risk Reduction (UNDRR), proses pemulihan pascabencana dapat
berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Korban tidak hanya
membutuhkan bantuan darurat, tetapi juga pendampingan psikologis, pemulihan
ekonomi, pendidikan, dan pembangunan kembali kehidupan mereka. Karena itu,
tantangan terbesar bukan sekadar menggerakkan empati, melainkan menjaga agar
empati tersebut tetap hidup hingga masa pemulihan selesai.
Melalui Lensa Digital, kita memahami
bahwa algoritma media sosial cenderung menampilkan informasi yang baru dan
menarik perhatian. Akibatnya, kepedulian masyarakat sering mengikuti arus
algoritma, bukan kebutuhan nyata para penyintas. Literasi digital pada akhirnya
tidak hanya berarti mampu mengenali informasi yang benar, tetapi juga mampu
mengelola perhatian secara bijaksana. Kepedulian tidak harus selalu diwujudkan
melalui unggahan atau tagar di media sosial. Tetap mengikuti perkembangan
pemulihan, mendukung lembaga kemanusiaan yang kredibel, membeli produk usaha
korban bencana, atau sekadar menjaga komunikasi dengan mereka merupakan bentuk
solidaritas yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar reaksi sesaat di
dunia maya.
Melalui Lensa Spiritualitas, Islam
mengajarkan bahwa kepedulian kepada sesama merupakan bagian dari kesempurnaan
iman. Allah Swt. berfirman, "Atau memberi makan pada hari kelaparan,
(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat
membutuhkan." (QS. Al-Balad [90]: 14–16). Rasulullah ï·º juga bersabda,
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi,
dan mengasihi adalah seperti satu tubuh; apabila salah satu anggota tubuh
sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak bisa tidur."
(HR. Bukhari No. 6011). Hadis tersebut mengajarkan bahwa kepedulian
bukanlah respons sesaat, melainkan ikatan persaudaraan yang terus hidup selama
masih ada saudara kita yang membutuhkan pertolongan.
Pandangan tersebut sejalan dengan
pembangunan karakter bangsa. Melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila
menanamkan nilai bergotong royong, empati, dan kepedulian sosial sebagai bagian
dari karakter peserta didik. Sementara itu, dari Lensa Ekologi, pemulihan
pascabencana tidak hanya membangun kembali rumah dan jalan yang rusak, tetapi
juga memperbaiki hubungan manusia dengan lingkungan agar risiko bencana di masa
depan dapat diminimalkan. Berbagai program rehabilitasi berbasis masyarakat
menunjukkan bahwa keterlibatan warga secara berkelanjutan mampu memperkuat
ketahanan sosial sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat terdampak.
Pada akhirnya, kepedulian yang sejati
tidak bergantung pada sorotan kamera atau ramainya media sosial. Nilai
kemanusiaan justru terlihat ketika kita tetap hadir meskipun dunia telah
mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Karena itu, pertanyaan yang layak kita
renungkan bukanlah, "Apakah bencana ini masih menjadi
pembicaraan?", melainkan, "Apakah saudara-saudara kita yang
menjadi korban sudah benar-benar mampu bangkit?" Selama jawabannya
belum, maka kepedulian kita pun seharusnya belum berakhir.
Namun, kepedulian
yang berkelanjutan tidak mungkin tumbuh apabila setiap orang berjalan
sendiri-sendiri. Dibutuhkan rasa saling percaya, gotong royong, dan ikatan
sosial yang mampu menyatukan berbagai perbedaan. Bagaimana membangun masyarakat
yang tetap kuat meskipun berbeda suku, agama, budaya, maupun pandangan? Itulah
yang akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Komunitas Kuat: Merajut
Ikatan di Tengah Perbedaan."
Sumber:
Al-Qur'an al-Karim, QS.
Al-Balad (90): 14–16. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/90?from=14&to=16
Al-Bukhari. (w. 256
H). Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, No. 6011. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Figley, C. R. (1995). Compassion
Fatigue: Coping with Secondary Traumatic Stress Disorder in Those Who Treat the
Traumatized. Brunner/Mazel.
United Nations Office
for Disaster Risk Reduction (UNDRR). (2024). Global Assessment Report on
Disaster Risk Reduction 2024. Geneva. https://www.undrr.org/publication/global-assessment-report-disaster-risk-reduction-2024
Lee, S., & Kim, J.
(2025). Algorithmic Compassion Fatigue: Media Exposure and Emotional Numbing
in Digital Disaster Response. Journal of Computer-Mediated Communication,
30(2), zmad045. https://doi.org/10.1093/jcmc/zmad045
World Bank. (2024). Building
Back Better: Long-Term Recovery and Resilience in Post-Disaster Indonesia. Washington,
DC. https://documents.worldbank.org/en/publication/documents-reports/documentdetail/0997353/030724/P1789250d1177f30ab0a6c8e5b3f3c8d9e2
Reuters Institute.
(2025). Digital News Report 2025: Attention Cycles and Disaster Coverage.
Oxford. https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/digital-news-report/2025
Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi,
Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka.
Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id
Kementerian Sosial RI. (2025). Pedoman Program Kampung Siaga Bencana dan Solidaritas Berkelanjutan. Jakarta. https://kemensos.go.id

Posting Komentar