Apakah Peran Kita Masih Dibutuhkan di Era Digital ?

Daftar Isi

Lensa Digital | Artikel #2 dari Seri Lensa Literasi

Ilustrasi tangan manusia dan tangan robot saling bersentuhan dengan cahaya hangat di antara keduanya

"Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak cucu Adam... dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna." (QS. Al-Isra’ [17]: 70).

 

Pada artikel sebelumnya, "Scroll dengan Hati: Menjaga Budi Pekerti di Balik Layar yang Dingin", kita memahami bahwa teknologi hanyalah alat yang mencerminkan karakter manusia sebagai penggunanya. Kemajuan digital tidak cukup hanya dihadapi dengan kemampuan teknis, tetapi membutuhkan kebijaksanaan dalam menjaga nilai, etika, dan tanggung jawab. Namun, pertanyaan berikutnya menjadi semakin mendasar: jika teknologi kini mampu menulis, menganalisis, menerjemahkan, bahkan mengambil keputusan dalam waktu yang sangat cepat, apakah manusia masih memiliki peran yang benar-benar penting? Melalui Lima Lensa Literasi, kita diajak memahami bahwa masa depan bukan tentang manusia yang bersaing melawan mesin, tetapi tentang bagaimana manusia tetap menjadi penjaga nilai di tengah kecerdasan teknologi yang semakin berkembang.

Perkembangan kecerdasan buatan memasuki fase baru dengan hadirnya Agentic AI, yaitu sistem AI yang tidak hanya memberikan jawaban, tetapi mampu menjalankan tugas secara mandiri melalui rangkaian tindakan tertentu. Microsoft Work Trend Index(2026) menunjukkan bahwa organisasi global mulai mengintegrasikan agen AI dalam berbagai aktivitas kerja, mulai dari analisis data hingga pengelolaan tugas administratif. Sementara itu, World Economic Forum melalui Futureof Jobs Report (2025) memprediksi bahwa perubahan teknologi akan menggeser sebagian pekerjaan, tetapi juga membuka peluang munculnya peran baru yang membutuhkan kemampuan manusiawi seperti kreativitas, kepemimpinan, empati, dan kemampuan beradaptasi. Artinya, tantangan terbesar bukanlah hilangnya manusia, melainkan perubahan cara manusia memberikan nilai.

Melalui Lensa Digital, kita memahami bahwa kemampuan menggunakan AI tidak cukup hanya dengan mengetahui cara memberikan perintah (prompt), tetapi juga bagaimana mengawasi, mengevaluasi, dan memastikan hasil teknologi tetap sesuai dengan nilai kemanusiaan. Konsep Human in the Loop (HITL) yang menjadi prinsip penting dalam tata kelola AI menegaskan bahwa manusia harus tetap terlibat dalam keputusan yang memiliki dampak besar terhadap kehidupan. Regulasi seperti EU AI Act (2024) dan NIST AI Risk Management Framework menekankan pentingnya pengawasan manusia dalam penggunaan AI berisiko tinggi, terutama pada bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik. Teknologi dapat menghitung kemungkinan, tetapi manusia tetap harus menentukan makna dan tanggung jawab dari sebuah keputusan.

Melalui Lensa Spiritualitas, Islam memberikan pandangan bahwa manusia memiliki kedudukan istimewa sebagai khalifah di bumi. Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi" (QS. Al-Baqarah[2]: 30). Ayat ini menunjukkan bahwa manusia bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi pemegang amanah yang bertanggung jawab atas setiap ilmu dan alat yang digunakannya. Allah Swt. juga berfirman, "Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam..." (QS. Al-Isra [17]: 70). Kemuliaan manusia bukan terletak pada kecepatan menghitung atau banyaknya informasi yang dimiliki, sebab mesin dapat melampauinya, tetapi pada kemampuan membedakan benar dan salah, manfaat dan mudarat, serta keputusan yang membawa kebaikan.

Nilai tersebut selaras dengan arah pendidikan masa depan. Melalui Lensa Pedagogi, UNESCO dalam Global Education Monitoring Report (2024) menegaskan bahwa teknologi dalam pendidikan harus tetap berpusat pada manusia. Peserta didik tidak cukup hanya diajarkan menggunakan teknologi, tetapi harus dibentuk menjadi pribadi yang mampu berpikir kritis, kreatif, beretika, dan bertanggung jawab. Di Indonesia, arah ini sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi Bernalar Kritis, Kreatif, dan Berakhlak Mulia. Pendidikan masa depan bukan hanya mencetak manusia yang mampu memakai AI, tetapi manusia yang mampu mengarahkan AI untuk tujuan yang benar.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah manusia masih dibutuhkan di era digital memiliki jawaban yang lebih dalam, manusia tetap dibutuhkan, bahkan semakin dibutuhkan. AI mungkin mampu menjawab ribuan pertanyaan dalam hitungan detik, tetapi hanya manusia yang mampu bertanya, "Apakah keputusan ini benar? Apakah ini membawa manfaat? Apakah ini menjaga martabat manusia?" Masa depan bukan milik mereka yang mampu mengalahkan mesin dalam kecepatan, tetapi mereka yang mampu menjaga hati, akal, dan tanggung jawab ketika menggunakan mesin.

Namun, ketika manusia semakin terhubung dengan teknologi dan dituntut untuk terus beradaptasi, muncul persoalan baru yang tidak kalah penting: mengapa kemudahan digital justru membuat banyak orang merasa semakin lelah, kehilangan fokus, dan sulit menemukan ketenangan? Pertanyaan tersebut akan kita renungkan dalam artikel berikutnya, "Lebih Sedikit, Lebih Bermakna: Seni Menemukan Bahagia".

Sumber :

Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-Baqarah (2): 30. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/2?from=30&to=30

Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-Isra' (17): 70. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/17?from=70&to=70

Imam Ahmad ibn Hanbal. Musnad Ahmad, No. 8952. Derajat: Shahih. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith

Cologna, V., et al. (2025). Trust in scientists and their role in society across 68 countries. Nature Human Behaviour, 9, 713–730. https://doi.org/10.1038/s41562-024-02090-5

Jiang, Y., et al. (2025). Empathy and artificial intelligence in healthcare communication: A systematic review. Journal of Medical Internet Research, 27, e63914. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12753942/

World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025. Geneva. https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/

UNESCO. (2024). Global Education Monitoring Report 2024: Technology in Education — A Tool on Whose Terms? Paris. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000389735

Strata.io. (2026, May). Human-in-the-Loop: A 2026 Guide to AI Oversight. https://www.strata.io/blog/agentic-identity/practicing-the-human-in-the-loop/

Ransbotham, S., et al. (2025). Agentic AI and human-in-the-loop interventions: Field experimental evidence from Alibaba's customer service operations. arXiv preprint arXiv:2605.14830. https://arxiv.org/abs/2605.14830

European Parliament. (2024). EU AI Act: Regulation (EU) 2024/1689 on Artificial Intelligence. https://eur-lex.europa.eu/legal-content/EN/TXT/?uri=CELEX:32024R1689

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

Posting Komentar