Scroll dengan Hati: Menjaga Budi Pekerti di Era Digital
Di tengah gempuran notifikasi dan budaya scroll tanpa henti, budi pekerti bukan lagi sekadar aturan kuno, melainkan filter utama agar kita tetap menjadi manusia yang beradab di balik layar. Individu yang menjunjung tinggi budi pekerti di zaman now adalah individu yang smart. Pintar dalam memaksimalkan keunggulan teknologi untuk kebaikan, dan mampu menebarkan energi positif kepada individu lain. Selain smart, pribadi yang berbudaya di era digital adalah pribadi yang santun dan beretika. Menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, bahkan di ruang maya. Mengayomi dan membantu sesama, juga menjadi pendorong semangat agar mampu berkarya lebih jauh tanpa harus menjatuhkan atau melakukan cancel culture pada orang lain.
Individu yang berbudaya di era digital adalah mereka yang menerapkan etika digital (netiquette) dalam setiap interaksi. Tidak "gaptek" dan "jadul", selalu bisa mengikuti dan mengimbangi perkembangan platform teknologi, namun tidak kehilangan sentuhan kemanusiaan. Yang tak kalah pentingnya, individu ini mampu menjadi teladan. Tidak "jarkoni" (bisa ngujar ta bisa nglakoni). Jika bisa menasehati orang lain untuk tidak menyebar hoaks, maka dirinya harus memverifikasi dulu. Jika menasehati untuk berkomentar santun, maka dirinya haruslah santun. Jika menasehati untuk konsisten bersikap baik, maka teguh boleh, tapi sedikit saja, harus bijak.
Individu yang berbudaya di era digital adalah mereka yang bisa meminimalkan konflik, ujaran kebencian, dan cyberbullying sebagai bentuk penjagaan harmoni sosial. Pendekatan empati dan dialog lebih diutamakan untuk mengatasi perbedaan pendapat di media sosial. Maka, individu ini harus ekstra sabar. Kesabaran adalah karakter ideal manusia di era digital yang harus melekat erat dalam kesehariannya, terutama saat jari-jari siap mengetik di papan tombol. Menahan diri untuk tidak membalas hujatan dengan hujatan adalah bentuk disiplin diri yang mulia.
Individu yang berbudaya di era digital adalah mereka yang selalu melakukan pengembangan diri, tidak perhitungan dalam membeli buku atau berlangganan konten edukatif, dan rajin membaca sebagai sebuah kebutuhan pokok. Membudayakan literasi digital tentunya akan membuat seseorang terhindar dari berita hoaks yang bisa merugikan dan menyesatkan. Mereka terbuka terhadap informasi, namun sangat anti-hoax. Mampu menyaring informasi (tabayyun) sebelum menyebarluaskannya (share).
Individu yang berbudaya di era digital selanjutnya adalah mereka yang mampu menyiapkan diri sejak dini dalam menghadapi persaingan bebas, membekali diri dengan keterampilan yang diperlukan zaman now, namun tetap berpegang teguh pada integritas. Mereka sadar bahwa di balik setiap akun, username, dan layar gawai, ada manusia nyata yang memiliki perasaan. Maka, menjaga budi pekerti bukan berarti menolak teknologi, melainkan memanusiakan teknologi dengan hati yang beradab. Scroll dengan hati, karena setiap ketikan jari adalah cerminan akhlak kita yang sesungguhnya.
Komentar
Posting Komentar