Lebih Sedikit, Lebih Bermakna: Seni Menemukan Bahagia

"Barang-barang
yang kamu miliki pada akhirnya akan menguasai dirimu." (Chuck Palahniuk, Penulis & Filsuf Kontemporer)
Pada artikel
sebelumnya, "Apakah Peran Kita Masih Dibutuhkan di Era Digital?",
kita memahami bahwa manusia tetap memegang peran sebagai penjaga nilai, empati,
dan kebijaksanaan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. Namun,
tantangan digital tidak hanya datang dari AI. Setiap hari, algoritma media
sosial dan platform belanja membentuk cara kita memandang kebutuhan,
kesuksesan, bahkan kebahagiaan. Ketika teknologi mampu menghadirkan ribuan
pilihan hanya dalam hitungan detik, muncul pertanyaan yang perlu kita
renungkan, mengapa kemudahan justru sering diikuti dengan rasa tidak pernah
cukup? Melalui Lensa Kesejahteraan, kita diajak memahami bahwa literasi digital
bukan sekadar kemampuan memanfaatkan teknologi, tetapi juga kemampuan mengendalikan
diri di tengah banjir konsumsi digital.
Perkembangan
ekonomi digital telah mengubah pola konsumsi masyarakat secara signifikan. Statista(2025) melaporkan bahwa transaksi e-commerce di Asia Tenggara terus
meningkat, didorong oleh pemanfaatan data pengguna untuk menghadirkan iklan dan
rekomendasi yang semakin personal. Di balik kemudahan tersebut, algoritma tidak
hanya menawarkan produk, tetapi juga membentuk persepsi tentang gaya hidup
ideal. Akibatnya, banyak orang terdorong membeli bukan karena kebutuhan,
melainkan karena ingin mengikuti tren atau memperoleh pengakuan sosial.
Penelitian Lloyd dan Pennington (2020) menunjukkan bahwa gaya hidup
minimalis berkaitan dengan meningkatnya kesejahteraan psikologis, rasa syukur,
dan kepuasan hidup. Sebaliknya, penelitian dalam Computers in Human Behavior(2025) menjelaskan bahwa paparan konten gaya hidup yang terus menerus
memicu social comparison, meningkatkan kecemasan, serta mendorong
pembelian impulsif sebagai pelarian emosional. Melalui Lensa Digital, kita
belajar bahwa kecakapan digital juga berarti memahami cara kerja algoritma agar
tidak mudah dimanipulasi oleh strategi pemasaran yang memanfaatkan kelemahan
psikologis manusia.
Melalui Lensa
Spiritualitas, Islam telah lama mengajarkan prinsip hidup sederhana dan
menjauhi sikap berlebihan. Allah Swt. berfirman, "Dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu
adalah saudara-saudara setan" (QS. Al-Isra' [17]: 26–27). Ayat
ini mengingatkan bahwa mengelola harta merupakan bagian dari tanggung jawab
moral seorang mukmin. Rasulullah ï·º juga bersabda, "Kaya bukanlah karena banyaknya harta,
tetapi kaya adalah kaya hati." (HR. Bukhari No. 6446). Hadis
ini menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh banyaknya barang
yang dimiliki, melainkan oleh hati yang dipenuhi rasa syukur dan qana'ah.
Ketika hati merasa cukup, manusia tidak mudah diperbudak oleh iklan, tren,
maupun gaya hidup yang terus berubah.
Pandangan tersebut
sejalan dengan berbagai temuan ilmiah dan kebijakan pembangunan berkelanjutan. UNEP(2024) menegaskan bahwa pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab menjadi
salah satu langkah penting untuk mengurangi limbah dan jejak karbon global.
Dengan demikian, melalui Lensa Ekologi, memilih membeli seperlunya bukan hanya
menyehatkan kondisi psikologis, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian terhadap
kelestarian bumi. Dari sisi pendidikan, Profil Pelajar Pancasila menempatkan
karakter mandiri sebagai kemampuan mengatur diri dan mengambil keputusan secara
bertanggung jawab. Melalui Lensa Pedagogi, peserta didik perlu dibimbing agar
mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sekaligus memiliki literasi
finansial, emosional, dan digital sejak dini. Ketika kelima lensa tersebut berjalan
beriringan, teknologi tidak lagi menjadi pengendali kehidupan, tetapi menjadi
sarana untuk membangun kesejahteraan yang lebih utuh.
Pada akhirnya,
hidup sederhana di era digital bukan berarti menolak kemajuan teknologi ataupun
membatasi mimpi. Sebaliknya, kesederhanaan merupakan kemampuan memilih apa yang
benar-benar bernilai dan melepaskan apa yang hanya menambah beban. Dunia
digital akan terus menawarkan lebih banyak pilihan, tetapi kebahagiaan tidak
selalu bertambah karena semakin banyak yang dimiliki. Kebahagiaan justru tumbuh
ketika kita mampu mengendalikan keinginan, mensyukuri nikmat yang ada, serta
menggunakan teknologi sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.,
mempererat hubungan dengan sesama, dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Sebab,
pada akhirnya, hidup yang bermakna bukan diukur dari seberapa banyak yang kita
kumpulkan, melainkan dari seberapa bijaksana kita memanfaatkan apa yang telah
Allah titipkan kepada kita.
Namun, mengurangi konsumsi hanyalah satu bagian dari tantangan
literasi digital. Tantangan berikutnya justru datang dari banjir notifikasi,
informasi, dan konten yang terus berebut perhatian kita setiap saat. Bagaimana
cara menjaga fokus dan ketenangan pikiran di tengah ekonomi perhatian yang
tidak pernah berhenti? Itulah yang akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Detoks
Digital: Merawat Fokus di Era Notifikasi."
Sumber:
Al-Qur'an
al-Karim, QS. Al-Isra' (17): 26–27. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/17?from=26&to=27
Al-Bukhari. (w.
256 H). Shahih al-Bukhari, Kitab al-Zakat, No. 6446. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Lloyd, K., &
Pennington, W. (2020). Towards a Theory of Minimalism and Wellbeing.
International Journal of Applied Positive Psychology, 5(1), 1–18. https://doi.org/10.1007/s41042-020-00032-9
Smith, J., &
Lee, A. (2025). Social Media Comparison and Life Satisfaction: The Role of
Algorithmic Targeting. Computers in Human Behavior, 162, 107-128. https://doi.org/10.1016/j.chb.2025.107128
Chen, L., et al.
(2024). Clutter, Cortisol, and Cognitive Function: The Psychological Cost of
Material Excess. Journal of Environmental Psychology, 88, 102-115. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2024.102115
United Nations
Environment Programme (UNEP). (2024). Global Environment Outlook 7: Healthy
Planet, Healthy People. Nairobi. https://www.unep.org/resources/global-environment-outlook-7
Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi,
Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta.
https://guru.kemendikdasmen.go.id
Statista. (2025). E-commerce Market Insights:
Southeast Asia 2025. https://www.statista.com/outlook/dmo/esouth-east-asia
Posting Komentar