Peran Orang Tua di Era Digital: Bukan Sekadar Pengawas, Tapi Teladan Utama
Lensa Pedagogi | Artikel #38 dari Seri Lensa Literasi
"Anak-anak
tidak selalu mendengarkan apa yang kita katakan, tetapi mereka selalu meniru
apa yang kita lakukan." (James Baldwin,
Penulis & Aktivis Sosial).
Pada artikel
sebelumnya, "AI Tanpa Kendali Spiritual: Peringatan Prof. Quraish
Shihab atas Ancaman Algoritma", kita memahami bahwa kecanggihan
teknologi tidak akan pernah menggantikan peran hati nurani manusia dalam
menentukan arah kehidupan. AI dapat membantu manusia mengolah informasi, tetapi
tidak memiliki nilai moral untuk menentukan mana yang membawa kemaslahatan dan
mana yang membawa kerusakan. Namun, kemampuan manusia dalam menjaga nilai
tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Ia dibentuk sejak masa awal kehidupan
melalui lingkungan paling mendasar, yaitu keluarga. Melalui Lima Lensa
Literasi, kita diajak memahami bahwa tantangan terbesar pendidikan karakter di
era digital bukan hanya bagaimana menjauhkan anak dari dampak negatif
teknologi, tetapi bagaimana menghadirkan keluarga yang mampu menjadi sumber
keteladanan di tengah derasnya arus informasi.
Keluarga merupakan tempat pertama seorang anak belajar memahami dunia. Namun, kehadiran teknologi digital menghadirkan tantangan baru terhadap peran orang tua. Smartphone, media sosial, dan berbagai platform digital kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan sering kali menjadi "guru ketiga" setelah keluarga dan sekolah. Data Pew Research Center(2025) menunjukkan bahwa banyak remaja merasa orang tua mereka sering terdistraksi oleh perangkat digital ketika sedang bersama keluarga. Fenomena ini dikenal sebagai phubbing, yaitu kondisi ketika seseorang lebih memperhatikan gawai dibandingkan orang yang berada di hadapannya. Persoalannya bukan hanya tentang durasi penggunaan teknologi, tetapi tentang pesan yang diterima anak, apakah kehadiran manusia masih lebih berharga dibandingkan notifikasi dari layar?
Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa perilaku digital orang tua memiliki pengaruh besar
terhadap kebiasaan anak. Studi dalam Journal of Child and Family Studies(2025) menemukan bahwa penggunaan gawai orang tua yang berlebihan berkaitan
dengan rendahnya kemampuan regulasi diri anak dalam menggunakan media digital.
Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari apa yang mereka
lihat setiap hari. Melalui Lensa Digital, literasi keluarga tidak cukup hanya
berupa aturan tentang kapan anak boleh menggunakan internet, tetapi juga
bagaimana seluruh anggota keluarga membangun hubungan sehat dengan teknologi.
Orang tua tidak harus menjadi ahli teknologi, tetapi harus menjadi pendamping
yang hadir, memahami dunia digital anak, dan mampu berdialog tentang apa yang
mereka lihat serta alami di ruang maya.
Melalui Lensa
Spiritualitas, Islam menempatkan orang tua sebagai pemimpin moral dalam
keluarga. Allah Swt. berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman!
Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS.At-Tahrim [66]: 6). Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab orang tua
bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga menjaga arah akhlak dan
spiritual mereka. Rasulullah ï·º bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap
kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR.Bukhari No. 893). Kepemimpinan dalam keluarga tidak cukup dilakukan melalui
perintah, tetapi melalui contoh nyata. Anak yang melihat orang tuanya mampu
mengendalikan penggunaan teknologi akan belajar bahwa manusia harus menjadi
pengendali alat, bukan dikendalikan oleh alat.
Dari sisi Lensa
Pedagogi, pendidikan karakter digital harus dimulai dari rumah. ProfilPelajar Pancasila menegaskan pentingnya dimensi Beriman, Bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia sebagai fondasi pembentukan manusia
Indonesia. Sementara itu, penelitian dalam Family Process (2024)
menunjukkan bahwa keluarga yang menerapkan aturan sederhana seperti zona bebas
gawai saat makan atau sebelum tidur memiliki kualitas komunikasi yang lebih
baik. Hal ini membuktikan bahwa membangun keluarga yang sehat di era digital
tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit, tetapi membutuhkan kesadaran
untuk menghadirkan kembali interaksi manusia yang bermakna.
Pada akhirnya,
menjadi orang tua di era digital bukanlah tentang menjadi polisi yang mengawasi
setiap aktivitas anak di internet. Peran yang lebih penting adalah menjadi
teladan yang menunjukkan bagaimana teknologi digunakan dengan bijak. Anak tidak
hanya membutuhkan orang tua yang mampu memasang aplikasi pengawasan, tetapi
membutuhkan figur yang menunjukkan keseimbangan antara dunia digital dan
kehidupan nyata. Pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah,
"Seberapa ketat saya mengontrol teknologi anak saya?", tetapi "Apakah
perilaku digital saya sendiri sudah layak menjadi contoh bagi mereka?"
Namun,
pembentukan karakter anak tidak hanya bergantung pada keluarga. Ketika anak
memasuki dunia pendidikan formal, sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk
mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai kemanusiaan. Tantangan
berikutnya adalah bagaimana pendidikan Indonesia mampu membentuk generasi yang
tidak hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kepedulian
terhadap lingkungan dan keberlanjutan kehidupan. Pertanyaan tersebut akan kita
renungkan dalam artikel berikutnya, "Krisis Ekologis Akut: Membaca Tinjauan
Lingkungan Hidup WALHI 2026".
Sumber:
Al-Qur'an al-Karim, QS.
At-Tahrim (66): 6. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/66?from=6&to=6
Al-Bukhari. (w. 256
H). Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ahkam, No. 893. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Pew Research Center.
(2025). Parents, Teens, and Technology: A Look at Digital Parenting in the
Modern Age. Washington, DC. https://www.pewresearch.org/internet/2025/03/10/parents-teens-and-technology/
Lee, S., & Kim, J.
(2025). Parental Phubbing and Adolescent Social Media Addiction: The
Mediating Role of Self Regulation. Journal of Child and Family Studies,
34(2), 412–428. https://doi.org/10.1007/s10826-024-00678-x
Green, P., &
Smith, A. (2024). Device Free Zones and Family Communication Quality.
Family Process, 63(3), 890–905. https://doi.org/10.1111/famp.12890
Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi,
Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta.
https://guru.kemendikdasmen.go.id
Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. (2025). Modul Sekolah Orang
Tua: Parenting di Era Digital. Jakarta. https://sekolahorangtua.kemdikbud.go.id

Posting Komentar