Krisis Ekologis Akut: Membaca Tinjauan Lingkungan Hidup WALHI 2026

Daftar Isi
Lensa Ekologi | Artikel #39 dari Seri Lensa Literasi

Ilustrasi kontras alam Indonesia antara area hutan hijau yang bertahan dan wilayah kritis akibat ekspansi industri, melambangkan darurat krisis ekologis

"Bumi tidak membutuhkan kita untuk menyelamatkannya. Bumi akan pulih dengan atau tanpa kita. Yang sedang kita perjuangkan sebenarnya adalah kelangsungan hidup peradaban manusia." (Adaptasi dari Pernyataan Aktivis Lingkungan Global).
 
Pada artikel sebelumnya, "Peran Orang Tua di Era Digital: Bukan Sekadar Pengawas, Tapi Teladan Utama", kita memahami bahwa pembentukan karakter manusia dimulai dari keteladanan, terutama dalam keluarga sebagai ruang pertama pendidikan nilai. Namun, keteladanan manusia tidak akan memiliki makna apabila generasi mendatang mewarisi bumi yang semakin kehilangan keseimbangannya. Di tengah kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan perubahan gaya hidup modern, krisis ekologis menjadi pengingat bahwa manusia tidak hanya dituntut untuk mampu menguasai alam, tetapi juga memiliki tanggung jawab menjaga keberlangsungannya. Melalui Lima Lensa Literasi, kita diajak memahami bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan fisik bumi, tetapi juga cermin dari cara manusia memahami amanah kehidupan.
 
Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia, tetapi pada saat yang sama menghadapi tekanan lingkungan yang semakin kompleks. Tinjauan Lingkungan Hidup Indonesia 2026 yang diterbitkan oleh WahanaLingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menunjukkan bahwa berbagai persoalan seperti deforestasi, ekspansi industri ekstraktif, pencemaran, dan lemahnya tata kelola lingkungan masih menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ekosistem. Kerusakan tersebut tidak hanya berdampak terhadap alam, tetapi juga terhadap kehidupan manusia melalui meningkatnya risiko bencana, hilangnya sumber penghidupan, dan ancaman terhadap kesehatan masyarakat.
 
Penelitian dalam Nature Sustainability (2025) menunjukkan bahwa hilangnya tutupan hutan primer memiliki hubungan erat dengan meningkatnya kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Sementara itu, laporan United Nations Environment Programme (UNEP, 2024) menegaskan bahwa pencemaran plastik menjadi salah satu ancaman besar terhadap ekosistem laut dunia. Data tersebut menunjukkan bahwa krisis ekologis bukan persoalan masa depan yang jauh, tetapi kenyataan yang sedang berlangsung dan membutuhkan perubahan cara pandang manusia terhadap alam.
 
Melalui Lensa Digital, masyarakat perlu memiliki kemampuan membaca informasi lingkungan secara kritis. Teknologi sebenarnya dapat menjadi alat penting untuk menjaga bumi melalui pemanfaatan citra satelit, analisis data iklim, dan sistem pemantauan lingkungan. Namun, teknologi tanpa nilai moral dapat berubah menjadi alat yang hanya mempercepat eksploitasi. Literasi digital dalam konteks lingkungan berarti memahami bahwa setiap keputusan konsumsi, setiap kebijakan pembangunan, dan setiap aktivitas manusia memiliki dampak ekologis yang saling terhubung.
 
Melalui Lensa Spiritualitas, Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki hubungan tanggung jawab dengan alam. Allah Swt. berfirman, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..." (QS.Ar-Rum [30]: 41). Ayat ini mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan sering kali muncul akibat perilaku manusia yang kehilangan keseimbangan dan melampaui batas. Rasulullah ï·º juga bersabda, "Jika kiamat telah terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebatang pohon kurma, maka tanamlah" (HR. Ahmad No.12981). Pesan tersebut menunjukkan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia sebagai khalifah.
 
Melalui Lensa Pedagogi, krisis ekologis menjadi tantangan bagi pendidikan untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan kehidupan. Profil Pelajar Pancasila melalui dimensi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak Mulia, dan Berkebinekaan Global menegaskan pentingnya membangun kesadaran terhadap persoalan global seperti perubahan iklim. Sementara melalui Lensa Kesejahteraan, WHO (2025) menjelaskan bahwa kualitas lingkungan memiliki hubungan erat dengan kesehatan manusia. Kerusakan alam pada akhirnya akan kembali menjadi persoalan sosial dan ekonomi yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
 
Pada akhirnya, krisis ekologis bukan hanya tentang hutan yang hilang, laut yang tercemar, atau perubahan iklim yang semakin nyata. Krisis ini adalah refleksi tentang bagaimana manusia menjalankan amanahnya sebagai penjaga bumi. Pertanyaan yang perlu direnungkan bukanlah, "Seberapa banyak manfaat yang dapat kita ambil dari alam?", tetapi "Seberapa besar tanggung jawab yang kita jalankan untuk menjaga alam yang dititipkan kepada kita?" Kemajuan sejati bukan ketika manusia mampu mengeksploitasi seluruh sumber daya yang tersedia, tetapi ketika manusia mampu membangun keseimbangan antara kebutuhan hidup, keberlanjutan lingkungan, dan nilai kemanusiaan.
 
Namun, menjaga bumi di era modern membutuhkan generasi yang tidak hanya memiliki kepedulian ekologis, tetapi juga kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan solusi. Ketika kecerdasan buatan mulai berkembang dan memasuki berbagai bidang kehidupan, pendidikan memiliki tantangan baru untuk mempersiapkan manusia yang mampu menggunakan AI secara bijaksana demi menjawab persoalan besar dunia. Pertanyaan tersebut akan kita renungkan dalam artikel berikutnya, "Literasi AI Jadi Mata Pelajaran Wajib: Sejauh Mana Sekolah Siap Menghadapinya?"
 
Sumber:
Al-Qur'an al-Karim, QS. Ar-Rum (30): 41. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/30?from=41&to=41
Imam Ahmad ibn Hanbal. Musnad Ahmad, No. 12981. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). (2026). Tinjauan Lingkungan Hidup Indonesia 2026: Darurat Ekologi dan Kegagalan Tata Kelola. Jakarta. https://walhi.or.id/publikasi/tinjauan-lingkungan-hidup-2026
Lee, S., & Kim, J. (2025). Deforestation Rates and Hydrological Disaster Vulnerability in Tropical Regions. Nature Sustainability, 8(3), 210–225. https://doi.org/10.1038/s41893-025-00812-x
World Health Organization (WHO). (2025). Global Health Estimates: Environmental Risk Factors. Geneva. https://www.who.int/data/global-health-estimates
Green, P., & Smith, A. (2025). Experiential Learning in Environmental Education and Student Empathy. Environmental Education Research, 31(2), 112–130. https://doi.org/10.1080/13504622.2024.2418932
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id
United Nations Environment Programme (UNEP). (2024). Global Plastic Pollution Treaty: Progress Report. Nairobi. https://www.unep.org/resources/global-plastic-pollution-treaty

Posting Komentar