Ekonomi Digital Indonesia Tembus USD130 Miliar: Peluang Besar, Ketimpangan yang Juga Besar
Lensa Pedagogi | Artikel #41 dari Seri Lensa Literasi
"Kemajuan
teknologi tidak akan berarti apa-apa jika ia hanya memperkaya segelintir orang
sementara mayoritas tetap tertinggal dalam kegelapan." (Joseph Stiglitz, Ekonom Peraih Nobel).
Pada artikel
sebelumnya, "Literasi AI Jadi Mata Pelajaran Wajib: Sejauh Mana Sekolah
Siap Menghadapinya?", kita memahami bahwa kemampuan menguasai
teknologi menjadi salah satu kunci menghadapi perubahan zaman. Namun,
kecanggihan teknologi tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak
diikuti dengan pemerataan akses dan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkannya.
Teknologi dapat menjadi jalan menuju kesejahteraan, tetapi juga dapat
memperlebar kesenjangan apabila hanya dikuasai oleh kelompok tertentu. Di
tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang semakin besar, muncul
pertanyaan penting: apakah transformasi digital benar-benar membuka peluang
bagi seluruh masyarakat, atau justru menciptakan bentuk ketimpangan baru?
Melalui Lima Lensa Literasi, kita diajak memahami bahwa keberhasilan ekonomi
digital bukan hanya diukur dari besarnya transaksi, tetapi dari seberapa luas
manfaatnya dirasakan oleh masyarakat.
Indonesia saat ini
menjadi salah satu kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Laporan e-ConomySEA 2025 yang diterbitkan oleh Google, Temasek, dan Bain & Company
menunjukkan bahwa nilai Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi digital
Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar USD130 miliar. Pertumbuhan tersebut
didorong oleh perkembangan perdagangan elektronik, layanan keuangan digital,
transportasi berbasis aplikasi, serta berbagai inovasi bisnis berbasis
teknologi. Namun, di balik angka yang besar tersebut terdapat tantangan serius
berupa kesenjangan digital. Banyak pelaku UMKM, khususnya di daerah terpencil,
masih menghadapi keterbatasan akses internet, kemampuan digital, serta
pemahaman mengenai strategi bisnis berbasis teknologi. Jika persoalan ini tidak
diselesaikan, ekonomi digital berisiko hanya memperkuat kelompok yang sudah
memiliki modal dan kemampuan lebih besar.
Perubahan ekonomi
digital juga mengubah cara persaingan bisnis berlangsung. Dalam ekosistem
berbasis platform, algoritma sering kali memberikan keuntungan kepada pelaku
usaha yang memiliki modal, rating tinggi, dan kemampuan pemasaran digital yang
lebih baik. Penelitian dalam Journal of Development Economics (2025)menunjukkan bahwa UMKM tradisional dapat tertinggal apabila tidak mendapatkan
dukungan berupa pelatihan digital, akses pembiayaan, dan pendampingan usaha.
Melalui Lensa Digital, literasi bukan hanya kemampuan menggunakan aplikasi atau
marketplace, tetapi juga kemampuan memahami data, keamanan digital, strategi
pemasaran, serta bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperkuat
keberlanjutan usaha.
Melalui Lensa
Spiritualitas, Islam mengajarkan bahwa perkembangan ekonomi harus berjalan
bersama prinsip keadilan. Allah Swt. berfirman, "Supaya harta itu
jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu..."
(QS. Al-Hasyr [59]: 7). Ayat ini mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak
boleh hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR.Ahmad No. 7063). Dalam konteks ekonomi digital, keberhasilan tidak hanya
diukur dari keuntungan yang diperoleh, tetapi dari kemampuan menciptakan
manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Melalui Lensa
Pedagogi, pendidikan memiliki peran strategis dalam menyiapkan masyarakat
menghadapi ekonomi digital. Profil Pelajar Pancasila melalui dimensi Mandiri
dan Kreatif menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi, berinovasi, dan
menciptakan peluang. Pelaku UMKM perlu dibekali bukan hanya kemampuan menjual
secara daring, tetapi juga kemampuan membaca pasar, mengelola keuangan digital,
dan membangun merek yang kuat.
Pada akhirnya, ekonomi
digital Indonesia bukan hanya tentang angka USD130 miliar, tetapi tentang
bagaimana pertumbuhan tersebut mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan
bersama. Pertanyaan yang lebih penting bukanlah "Seberapa besar ekonomi
digital kita?", melainkan "Seberapa banyak masyarakat yang
ikut tumbuh bersamanya?" Karena teknologi yang maju tanpa pemerataan
hanya akan menghasilkan kemajuan yang tidak lengkap.
Namun, peluang ekonomi
digital yang besar juga menghadirkan tantangan baru bagi generasi muda. Ketika
dunia kerja berubah cepat dan keterampilan baru terus bermunculan, sebagian
anak muda justru mengalami kesulitan menemukan arah masa depan. Fenomena
meningkatnya jumlah generasi muda yang tidak berada dalam pendidikan,
pekerjaan, maupun pelatihan menjadi perhatian serius. Pertanyaan tersebut akan
kita bahas dalam artikel berikutnya, "9,9 Juta Gen Z Menganggur: Krisis
NEET dan Masa Depan Angkatan Kerja Indonesia".
Sumber:
Al-Qur'an al-Karim, QS.
Al-Hasyr (59): 7. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/59?from=7&to=7
Imam Ahmad ibn Hanbal.
Musnad Ahmad, No. 7063. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
Google, Temasek, &
Bain & Company. (2025). e-Conomy SEA 2025: Reaching New Heights.
Singapore. https://www.bain.com/insights/e-conomy-sea-2025/
Badan Pusat Statistik
(BPS). (2025). Statistik Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) 2025. Jakarta.
https://www.bps.go.id/id/statistik/umkm
Lee, S., & Kim, J.
(2025). Platform Economy and Income Inequality in Emerging Markets.
Journal of Development Economics, 178, 105-122. https://doi.org/10.1016/j.jdeveco.2025.105122
Universitas Indonesia.
(2024). Dampak Literasi Digital Holistik terhadap Keberlanjutan UMKM di
Indonesia. Jakarta. https://ui.ac.id
Green, P., &
Smith, A. (2024). Economic Justice and Environmental Sustainability in
Digital Platforms. Sustainability, 16(8), 3456. https://doi.org/10.3390/su16083456

Posting Komentar