9,9 Juta Gen Z Menganggur: Krisis NEET dan Masa Depan Angkatan Kerja Indonesia

Daftar Isi

Lensa Pedagogi | Artikel #42 dari Seri Lensa Literasi

Ilustrasi seorang pemuda duduk termenung memegang map berkas lamaran kerja berlatar belakang grafik data statistik ketenagakerjaan yang fluktuatif

"Masa depan bukan milik mereka yang paling cepat beradaptasi dengan mesin, melainkan milik mereka yang paling dalam memahami makna menjadi manusia." (Refleksi Sosiologi Pendidikan).

Pada artikel sebelumnya, "Ekonomi Digital Indonesia Tembus USD130 Miliar: Peluang Besar, Ketimpangan yang Juga Besar", kita memahami bahwa pertumbuhan ekonomi digital tidak selalu berjalan seiring dengan pemerataan kesejahteraan. Teknologi membuka peluang besar, tetapi tanpa kesiapan sumber daya manusia, sebagian masyarakat justru berisiko tertinggal dari perubahan zaman. Di balik angka pertumbuhan ekonomi digital yang membanggakan, terdapat realitas lain yang perlu mendapat perhatian serius: jutaan generasi muda yang belum menemukan tempat dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja. Fenomena Not in Education, Employment, or Training (NEET) menunjukkan bahwa tantangan terbesar bangsa bukan hanya menciptakan teknologi, tetapi memastikan manusia mampu mengambil peran di dalamnya. Melalui Lima Lensa Literasi, kita diajak memahami bahwa persoalan pengangguran muda bukan semata-mata persoalan individu, melainkan persoalan sistem pendidikan, ekonomi, dan lingkungan sosial yang perlu diperbaiki bersama.

 

Generasi Z sering disebut sebagai generasi paling dekat dengan teknologi. Namun, kedekatan dengan dunia digital tidak selalu berarti kesiapan menghadapi dunia kerja. Data BadanPusat Statistik (BPS, 2026) menunjukkan bahwa jumlah pemuda usia 15–24 tahun yang tidak sedang menempuh pendidikan, bekerja, maupun mengikuti pelatihan mencapai sekitar 9,9 juta orang. Angka ini menjadi peringatan bahwa bonus demografi Indonesia dapat berubah menjadi tantangan besar apabila generasi muda tidak memperoleh ruang pengembangan yang memadai. Persoalannya bukan hanya kurangnya lapangan kerja, tetapi juga adanya kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan industri yang terus berubah.

 

Melalui Lensa Digital, fenomena NEET memperlihatkan bahwa teknologi dapat menjadi peluang sekaligus tekanan. Media sosial menghadirkan berbagai gambaran kesuksesan yang sering kali tidak realistis. Banyak anak muda merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain yang ditampilkan secara sempurna di ruang digital. Penelitian dalam Journal of Youth Studies (2025) menunjukkan bahwa tekanan sosial digital dapat meningkatkan kecemasan dan rasa tidak percaya diri pada kelompok usia muda. Selain itu, kesenjangan keterampilan (skills mismatch) antara pendidikan formal dan kebutuhan industri digital menyebabkan sebagian lulusan merasa tidak siap memasuki dunia kerja. Literasi digital dalam konteks ini bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan memahami diri, membangun kompetensi, dan memanfaatkan ruang digital sebagai sarana berkembang.

 

Melalui Lensa Spiritualitas, Islam mengajarkan bahwa bekerja dan berusaha merupakan bagian dari menjaga kehormatan manusia. Allah Swt. berfirman, "Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah..." (QS. Al-Jumu’ah [62]: 10). Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan seorang muslim tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi juga diwujudkan melalui ikhtiar dan kontribusi sosial. Rasulullah ï·º bersabda, "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah" (HR. Bukhari No. 1429). Pesan ini mengajarkan pentingnya kemandirian dan semangat untuk terus memperbaiki diri. Mengalami kegagalan bukanlah kehinaan, tetapi berhenti berusaha tanpa arah adalah sesuatu yang perlu diperbaiki.

 

Melalui Lensa Pedagogi, pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam menjembatani dunia sekolah dan dunia kerja. Profil Pelajar Pancasila pada dimensi Mandiri dan Kreatif menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, serta menciptakan solusi. Program pelatihan vokasi, seperti penguatan keterampilan melalui Kartu Prakerja dan kolaborasi industri, menjadi langkah penting agar pemuda tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta nilai. Pendidikan masa depan harus membangun keberanian untuk mencoba, gagal, belajar, dan kembali bangkit.

 

Pada akhirnya, angka 9,9 juta bukan sekadar statistik, tetapi gambaran tentang jutaan potensi manusia yang menunggu kesempatan. Pertanyaan yang perlu direnungkan bukan hanya, "Mengapa banyak Gen Z belum bekerja?", tetapi "Apakah sistem kita sudah benar-benar menyiapkan mereka menghadapi masa depan?" Pemuda bukan beban pembangunan, melainkan energi terbesar bangsa apabila diberikan arah, kesempatan, dan dukungan yang tepat.

 

Namun, menyediakan pekerjaan saja tidak cukup apabila dunia kerja masih kehilangan nilai kemanusiaan. Banyak generasi muda memasuki pekerjaan, tetapi kemudian meninggalkannya karena menghadapi budaya kerja yang penuh tekanan dan minim empati. Bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan mental manusia? Pertanyaan tersebut akan kita renungkan dalam artikel berikutnya, "Budaya Kerja Humanis: Ketika Produktivitas Tidak Harus Mengorbankan Kemanusiaan".

 

Sumber:

Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-Jumu'ah (62): 10. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/62?from=10&to=10

Al-Bukhari. (w. 256 H). Shahih al-Bukhari, Kitab al-Zakat, No. 1429. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith

Badan Pusat Statistik (BPS). (2026). Statistik Angkatan Kerja Indonesia Februari 2026. Jakarta. https://www.bps.go.id/id/statistik/ketenagakerjaan

Lee, S., & Kim, J. (2025). Social Media Pressure and Learned Helplessness Among NEET Youth in Southeast Asia. Journal of Youth Studies, 28(4), 512–530. https://doi.org/10.1080/13676261.2025.2432071

Green, P., & Smith, A. (2024). Youth Participation and Community Sustainability in Developing Nations. Sustainability, 16(8), 3456. https://doi.org/10.3390/su16083456

Kementerian Ketenagakerjaan RI. (2025). Laporan Evaluasi Program Kartu Prakerja dan Link and Match. Jakarta. https://kemnaker.go.id

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

World Bank. (2024). Indonesia Economic Prospects: Navigating the Demographic Transition. Washington, DC. https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/publication/indonesia-economic-prospects

Posting Komentar