Belajar Sepanjang Hayat: Mengapa Manusia Tidak Boleh Berhenti Bertumbuh?
"Barangsiapa
yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung. Barangsiapa yang
harinya sama saja, maka ia rugi." (Diriwayatkan
oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).
Pada artikel sebelumnya, "Era AI:
Semakin Cerdas Mesin, Haruskah Manusia Semakin Bijaksana?", kita
memahami bahwa secanggih apa pun kecerdasan buatan, manusia tetap memiliki
keunggulan yang tidak dapat digantikan, yaitu kemampuan berpikir kritis,
mengambil keputusan secara etis, dan memaknai kehidupan. Namun, kemampuan tersebut
tidak akan berkembang apabila kita berhenti belajar. Di tengah perubahan
teknologi yang berlangsung sangat cepat, pengetahuan yang relevan hari ini bisa
saja menjadi usang beberapa tahun kemudian. Melalui Lensa Digital, kita diajak
menyadari bahwa tantangan terbesar abad ke-21 bukanlah kurangnya informasi,
melainkan kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan memperbarui diri
sepanjang hayat.
Perubahan dunia kerja, perkembangan
teknologi, hingga dinamika sosial menuntut manusia untuk terus meningkatkan
kompetensinya. World Economic Forum (2025) memperkirakan bahwa separuh
tenaga kerja global memerlukan reskilling maupun upskilling dalam beberapa
tahun ke depan akibat pesatnya otomatisasi dan transformasi digital. Kondisi
tersebut menunjukkan bahwa pendidikan formal bukanlah akhir dari proses
belajar, melainkan fondasi untuk terus berkembang. Berbagai penelitian dalam The Lancet Healthy Longevity (2024) juga mengungkapkan bahwa aktivitas belajar
secara berkelanjutan mampu menjaga fungsi kognitif, memperkuat daya ingat,
serta menurunkan risiko penurunan kemampuan berpikir pada usia lanjut. Temuan
ini memperlihatkan bahwa belajar bukan hanya investasi bagi karier, tetapi juga
bagi kesehatan otak dan kualitas hidup.
Melalui Lensa Digital, kesempatan belajar
kini terbuka lebih luas dibandingkan sebelumnya. Berbagai kursus daring,
perpustakaan digital, jurnal ilmiah, hingga platform pembelajaran terbuka
memungkinkan siapa pun memperoleh pengetahuan tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru berupa banjir
informasi. Karena itu, literasi digital saat ini tidak hanya berarti mampu
mencari informasi, tetapi juga mampu memilih sumber yang kredibel, membedakan
fakta dari opini, serta menghubungkan berbagai pengetahuan menjadi solusi atas
persoalan nyata. Belajar bukan lagi sekadar mengumpulkan informasi, melainkan
membangun cara berpikir yang lebih bijaksana dan adaptif terhadap perubahan.
Melalui Lensa Spiritualitas, Islam
menempatkan pencarian ilmu sebagai bagian dari ibadah yang berlangsung
sepanjang kehidupan. Allah Swt. berfirman, "Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa
derajat." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11). Rasulullah ï·º juga mendorong umatnya
untuk terus menuntut ilmu sepanjang hayat. Meskipun riwayat yang populer
berbunyi "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat"
diperselisihkan derajat kesahihannya, makna tersebut selaras dengan banyak
ajaran Islam yang mendorong umat untuk terus belajar dan menambah ilmu.
Semangat ini juga ditegaskan dalam hadis lain, "Barang siapa menempuh
suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju
surga." (HR. Muslim No. 2699). Ajaran tersebut menunjukkan
bahwa belajar bukan semata-mata demi prestasi duniawi, tetapi juga sebagai
bentuk syukur atas nikmat akal yang Allah anugerahkan kepada manusia.
Pandangan tersebut sejalan dengan
pembangunan karakter bangsa. Melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila
menempatkan dimensi Mandiri dan Bernalar Kritis sebagai bekal penting agar
peserta didik mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat. Pendidikan tidak lagi
dipahami sebagai kegiatan yang berhenti ketika seseorang lulus sekolah atau
perguruan tinggi, melainkan sebagai proses yang terus berlangsung dalam setiap
pengalaman hidup. Sementara itu, melalui Lensa Ekologi, budaya belajar juga
mendorong masyarakat lebih adaptif terhadap berbagai tantangan global, termasuk
perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. UNESCO Institute for LifelongLearning menegaskan bahwa masyarakat yang memiliki budaya belajar yang kuat
cenderung lebih mampu menerima inovasi, memanfaatkan teknologi secara
bertanggung jawab, serta menghasilkan solusi yang lebih ramah lingkungan bagi
generasi mendatang.
Pada akhirnya, belajar sepanjang hayat
bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjaga kerendahan hati untuk terus
bertumbuh. Dunia akan terus berubah, dan manusia yang berhenti belajar perlahan
akan tertinggal oleh perubahan itu sendiri. Karena itu, pertanyaan yang patut
kita renungkan bukanlah, "Sudah seberapa banyak ilmu yang saya
miliki?", melainkan, "Apakah hari ini saya menjadi pribadi
yang lebih baik dibandingkan kemarin karena saya mau terus belajar?"
Ketika rasa ingin tahu tetap hidup, pikiran akan tetap terbuka, hati akan tetap
rendah, dan kehidupan akan terus dipenuhi peluang untuk memberi manfaat kepada
sesama.
Namun, semangat
untuk terus belajar dan berkembang sering kali berhadapan dengan kenyataan
bahwa tubuh dan pikiran memiliki batas. Di tengah tuntutan produktivitas,
banyak orang merasa harus terus bekerja, terus belajar, dan terus terhubung
tanpa memberi ruang bagi dirinya untuk beristirahat. Apakah kelelahan merupakan
tanda kurangnya semangat, atau justru sinyal bahwa kita perlu berhenti sejenak?
Pertanyaan inilah yang akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Burnout
Digital: Ketika Istirahat Bukan Sekadar Tidur."
Sumber:
Al-Qur'an al-Karim, QS.
Al-Mujadilah (58): 11. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/58?from=11&to=11
Ibnu Abdil Barr. Jami'
Bayan al-Ilm wa Fadlih, No. 58. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
World Economic Forum.
(2025). The Future of Jobs Report 2025. Geneva. https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/
Livingston, G., et al.
(2024). Dementia Prevention, Intervention, and Care: 2024 Report of the
Lancet Commission. The Lancet Healthy Longevity, 5(12), e890-e910. https://doi.org/10.1016/S2666-7568(24)00123-4
UNESCO Institute for
Lifelong Learning. (2024). Global Report on Adult Learning and Education V
(GRALE 5): Civic Empowerment. Hamburg. https://uil.unesco.org/en/grale5
Siemens, G. (2025). Connectivism
and Learning in the Age of AI. International Journal of Emerging
Technologies in Learning, 20(1), 45-60. https://doi.org/10.3991/ijetl.2025.20.1.045
Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi,
Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka.
Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

Posting Komentar