Belajar Sepanjang Hayat: Mengapa Manusia Tidak Boleh Berhenti Bertumbuh?

Daftar Isi

Lensa Pedagogi | Artikel #17 dari Seri Lensa Literasi

Ilustrasi tangan memegang buku tua dengan tunas hijau yang tumbuh dari halaman, simbolisasi pertumbuhan intelektual dan spiritual

"Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung. Barangsiapa yang harinya sama saja, maka ia rugi." (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).

Pada artikel sebelumnya, "Era AI: Semakin Cerdas Mesin, Haruskah Manusia Semakin Bijaksana?", kita memahami bahwa secanggih apa pun kecerdasan buatan, manusia tetap memiliki keunggulan yang tidak dapat digantikan, yaitu kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan secara etis, dan memaknai kehidupan. Namun, kemampuan tersebut tidak akan berkembang apabila kita berhenti belajar. Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat, pengetahuan yang relevan hari ini bisa saja menjadi usang beberapa tahun kemudian. Melalui Lensa Digital, kita diajak menyadari bahwa tantangan terbesar abad ke-21 bukanlah kurangnya informasi, melainkan kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan memperbarui diri sepanjang hayat.

Perubahan dunia kerja, perkembangan teknologi, hingga dinamika sosial menuntut manusia untuk terus meningkatkan kompetensinya. World Economic Forum (2025) memperkirakan bahwa separuh tenaga kerja global memerlukan reskilling maupun upskilling dalam beberapa tahun ke depan akibat pesatnya otomatisasi dan transformasi digital. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan formal bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan fondasi untuk terus berkembang. Berbagai penelitian dalam The Lancet Healthy Longevity (2024) juga mengungkapkan bahwa aktivitas belajar secara berkelanjutan mampu menjaga fungsi kognitif, memperkuat daya ingat, serta menurunkan risiko penurunan kemampuan berpikir pada usia lanjut. Temuan ini memperlihatkan bahwa belajar bukan hanya investasi bagi karier, tetapi juga bagi kesehatan otak dan kualitas hidup.

Melalui Lensa Digital, kesempatan belajar kini terbuka lebih luas dibandingkan sebelumnya. Berbagai kursus daring, perpustakaan digital, jurnal ilmiah, hingga platform pembelajaran terbuka memungkinkan siapa pun memperoleh pengetahuan tanpa dibatasi ruang dan waktu. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru berupa banjir informasi. Karena itu, literasi digital saat ini tidak hanya berarti mampu mencari informasi, tetapi juga mampu memilih sumber yang kredibel, membedakan fakta dari opini, serta menghubungkan berbagai pengetahuan menjadi solusi atas persoalan nyata. Belajar bukan lagi sekadar mengumpulkan informasi, melainkan membangun cara berpikir yang lebih bijaksana dan adaptif terhadap perubahan.

Melalui Lensa Spiritualitas, Islam menempatkan pencarian ilmu sebagai bagian dari ibadah yang berlangsung sepanjang kehidupan. Allah Swt. berfirman, "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11). Rasulullah ï·º juga mendorong umatnya untuk terus menuntut ilmu sepanjang hayat. Meskipun riwayat yang populer berbunyi "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat" diperselisihkan derajat kesahihannya, makna tersebut selaras dengan banyak ajaran Islam yang mendorong umat untuk terus belajar dan menambah ilmu. Semangat ini juga ditegaskan dalam hadis lain, "Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim No. 2699). Ajaran tersebut menunjukkan bahwa belajar bukan semata-mata demi prestasi duniawi, tetapi juga sebagai bentuk syukur atas nikmat akal yang Allah anugerahkan kepada manusia.

Pandangan tersebut sejalan dengan pembangunan karakter bangsa. Melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila menempatkan dimensi Mandiri dan Bernalar Kritis sebagai bekal penting agar peserta didik mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai kegiatan yang berhenti ketika seseorang lulus sekolah atau perguruan tinggi, melainkan sebagai proses yang terus berlangsung dalam setiap pengalaman hidup. Sementara itu, melalui Lensa Ekologi, budaya belajar juga mendorong masyarakat lebih adaptif terhadap berbagai tantangan global, termasuk perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. UNESCO Institute for LifelongLearning menegaskan bahwa masyarakat yang memiliki budaya belajar yang kuat cenderung lebih mampu menerima inovasi, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, serta menghasilkan solusi yang lebih ramah lingkungan bagi generasi mendatang.

Pada akhirnya, belajar sepanjang hayat bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjaga kerendahan hati untuk terus bertumbuh. Dunia akan terus berubah, dan manusia yang berhenti belajar perlahan akan tertinggal oleh perubahan itu sendiri. Karena itu, pertanyaan yang patut kita renungkan bukanlah, "Sudah seberapa banyak ilmu yang saya miliki?", melainkan, "Apakah hari ini saya menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan kemarin karena saya mau terus belajar?" Ketika rasa ingin tahu tetap hidup, pikiran akan tetap terbuka, hati akan tetap rendah, dan kehidupan akan terus dipenuhi peluang untuk memberi manfaat kepada sesama.

Namun, semangat untuk terus belajar dan berkembang sering kali berhadapan dengan kenyataan bahwa tubuh dan pikiran memiliki batas. Di tengah tuntutan produktivitas, banyak orang merasa harus terus bekerja, terus belajar, dan terus terhubung tanpa memberi ruang bagi dirinya untuk beristirahat. Apakah kelelahan merupakan tanda kurangnya semangat, atau justru sinyal bahwa kita perlu berhenti sejenak? Pertanyaan inilah yang akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Burnout Digital: Ketika Istirahat Bukan Sekadar Tidur."

Sumber:

Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-Mujadilah (58): 11. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/58?from=11&to=11

Ibnu Abdil Barr. Jami' Bayan al-Ilm wa Fadlih, No. 58. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith

World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025. Geneva. https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/

Livingston, G., et al. (2024). Dementia Prevention, Intervention, and Care: 2024 Report of the Lancet Commission. The Lancet Healthy Longevity, 5(12), e890-e910.  https://doi.org/10.1016/S2666-7568(24)00123-4

UNESCO Institute for Lifelong Learning. (2024). Global Report on Adult Learning and Education V (GRALE 5): Civic Empowerment. Hamburg. https://uil.unesco.org/en/grale5

Siemens, G. (2025). Connectivism and Learning in the Age of AI. International Journal of Emerging Technologies in Learning, 20(1), 45-60. https://doi.org/10.3991/ijetl.2025.20.1.045

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id

Al-Hakim. Al-Mustadrak ala al-Sahihain, No. 7746. Derajat: Hasan.

Posting Komentar